Sabtu, 16 Maret 2013

Mari Refleksi dan Terus Membangun Papua

Oleh Jhon Pekei
 
Sejak Bangsa Papua diintegrasikan kedalam  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), saat itu pulalah manusia Papua menghadapi krisis sumber daya Manusia. Artinya bahwa, manusia Papua  kehilangan identitas  untuk tetap bereksistensi pada dirinya sendiri.

Ibaratnya Manusia Papua yang hidup di dunia semu. Dunia yang tak semestinya nyata. Togel adalah salah satu contoh proses penciptaan bahwa kehidupan Papua berada dalam dunia tidak nyata. 

Sedikit cerita ketika bersama Belanda saat itu. Belanda cukup menjawab hal itu dengan memperdayakan orang asli Papua dengan berbagai keterampilan, pelayanan pendidikan yang berpola asrama dan pelayanan kesehatan yang baik. Dan saya kira ini satu contoh yang patut dicontoh untuk membangun manusia dan alam raya Papua.

Tetapi Indonesia terhadap Papua hari ini tak menjawab hal itu. Manusia Papua pada negerinya terbayang kehilangan identitas, apalagi menjawab krisis sumber daya manusia untuk membangun Papua yang mandiri, damai dan bermartatabat. 

Ketika kita melihat paket Undang- Undang Otonomi Khusus Papua  ( Otsus)  tahun 2001, Indonesia   tak menjawab hal ini bagi Orang Papua. Padalah, semestinya Otsus harus dilihat sebagai jalan tengah bagi orang Papua dan Indonesia. Adanya pelayanan kesehatan yang baik, adanya pendidikan yang baik  dan adanya pemberdayaan orang asli Papua melalui keterampilan yang baik. Namun realitas kini di Papua tak menunjukan keberhasilan dari otsus itu sendiri.

Kini yang ada di Papua hanya mengkrisiskan keadaan  untuk tak dapat maju, tak dapat berkembang dan lain sebagainya terhadap Orang Papua terutama melalui proses penciptaan krisis sumber daya Manusia. Contohnya seperti melalui  pengilan pemekaran di Papua. Hal ini menujukan bahwa, di lain sisi pemekaran mendatangkan krisis sumber daya Manusia. 

Hal ini karena dengan adanya pemekaran tentu menyerap tenaga- tenaga terlatih dan terdidik di daerah Pemekaran. Sementara masalahnya adalah sumber daya manusia Papua belum di bangun secara tuntas.

Tugas Masyarakat Papua

Kita telah melihat sebuah kondisi di mana orang Papua dihidupkan di dalam dunia semu. Dunia yang tidak nyata. Tetapi ini bukan berarti benang merah untuk pesismis. Tetapi, di situ kita Orang Papua diajarkan untuk tetap bereksistensi terhadap konsisi yang telah diciptakan oleh Indonesia terhadap orang Papua. 

Ada pertanyaan reflektif yang kira- kira musti dijawab secara pribadi oleh semua masyarakat Papua. Apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat Papua terhadap proses penciptaan kondisi tersebut? 

Bisakah orang Papua sendiri tetap bereksistensi terhadap dirinya? Kemudian bisakah setiap keluarga bisa mengusahakan makan- minum secara sendiri tanpa tergantung dari proses penciptaan yang sedang berjalan?

Saya kira ini kita musti refleksi supaya kita tidak termakan oleh proses penciptaan dunia semu itu. Supaya dengan  bereksistensi, orang Papua terutama pada sisi sumber daya manusia dapat diadalkan oleh semua pihak. Bukan lagi tergantung dan melemahkan karakter ke-Papua-an sehingga lupa akan identitasnya, apalagi krisis sumber daya untuk misalnya membangun ekonomi keluarga.

Misalnya meminta pemerintah setempat untuk memfasilitasi soal pemberdayaan akan menghangkat potensi local yang langsung berhadapan dengan lapagan. Selain itu, Masyarakat Papua juga perlu mengusahakan makan minumnya sendiri tanpa tergantung pada pemerintah dan terutama pendatang yang menguasai sendi- sendi ekonomi di Papua. Apalagi konteks sekarang yang digilakan dengan pemekaran.

Tugas Mahasiswa Papua

Proses pengkondisian dalam kehidupan semu telah dan sedang berjalan di Tanah Papua. Ini menunjukan kepada mahasiswa Papua untuk  tidak tetap tinggal diam dan membisu. Tetapi realitas ini ingin mengajak kita semua untuk menjawab pertanyaan reflektif yakni, setelah selesai di kampus, saya akan buat apa untuk Papua? Minimal dari jurusanku saya akan buat apa?
Saya kira ini penting sekali untuk kita semua jabab sebagai orang asli Papua. Melihat diri mahasiswa Papua sebagai agen perubah bagi Papua. Hal ini tentu sebuah pertanyaan reflektif yang harus dijawab dari sekarang supaya ada  langkah persiapan, langkah aksi dan langkah fisishing yang kita boleh buat dari sekarang.

Contohnya, ketika nantinya anda ingin menjadi wartawan. Tentu langkahnya adalah membeli buku- buku yang berkaitan dengan dunia tulis- menulis. Kemudian selalu membaca buku dan berusaha memberanikan diri untuk menulis dan lain sebagainya. 

Contoh lainnya,  ketika anda ingin menjadi wirausaha muda Papua, maka tentunya berproses dengan semua hal mengenai dunia wirausaha.
Hal ini dimaksudkan untuk sekaligus menjawab sumber daya manusia Papua nantinya. Ketika kita selesaikan di kampus, kita kembali membangun Papua. Ini satu jalan eksistensi mahasiswa Papua kini. Supaya kita juga tidak terjebak oleh pengkondisian krisis di Papua

Harapan Papua ke Depan

Harapan ke depan, orang Papua hari ini adalah Papua berada dalam kondisi yang mandiri, aman, dan damai. Tidak berada dalam proses pengkodisian yang dibuat oleh Indonesia terhadap Papua. Satu jalannya adalah apa yang bisa dibuat oleh masing- masing orang Papua terhadap realitas yang sedang berkembang ini.

Orang Papua harus reflektif terhadap realitas yang sedang berkembang. Bereksistensi untuk menemukan ke-Papua-an yang ada dan akan ada itu. Supaya orang Papua  menjadi pelaku di atas negerinya. Bukan lagi objek  dan terhanyut terhadap  kehidupan semu yang telah dan sedang diciptakan. Tetapi tetap berdiri dalam kehidupan nyata arang asli Papua.


Jhon Pekei  adalah Mahasiswa Papua

Tidak ada komentar: