Kamis, 25 April 2013

Seorang Transmigran di Bomberay

Romo Johannes Supriyono. Foto: Facebook
Aku tidak tahu nama lelaki tua itu. Juga tidak pernahbertemu sebelumnya. Baru sekali itu aku sampai ke Bomberay, sebuah distrik diFakfak yang dijadikan area transmigrasi. Kusebut saja dia Pak Tua.
 Inilah sedikit ceritayang ia bawa pada siang yang panas itu kepadaku.

“Mas, saya ikut transmigrasi. Datang ke sini tahun 1994.Kampung saya di Jawa Tengah,” begitu ia berkisah. Rambut Pak Tua sudah tampakdominan putih. Beberapa giginya sudah ompong. Keriput di wajahnya tidak lagitersamar.

Kami duduk di teras rumah papan, pada bangku kayu yang masihkokoh. Pak Tua itu sambil mengipas-kipaskan topi hitamnya yang kumal. Kakinyaberalas sepatu tua.

“Wah, berarti sudah 17 tahun, Pak” kataku. Hari perjumpaanitu pada awal Januari 2011. Pada musim hujan yang datangnya sering tidakterduga.

“Banyak yang berhasil, Pak?”

“Lha berhasil apa? Banyak yang pulang. Saya saja kalau punyaongkos malah mendingan pulang,” kataPak Tua dengan cengkok jawa yang tidak luntur. “Dulu, sebelum berangkat kamidilatih pertanian. Diajari mengolah sawah dan menanam padi. Sampai di sini ilmuitu kami terapkan. Tanah kami olah. Kami juga tanam padi. Tapi tidak adahasilnya. Padinya tidak tumbuh. Cuma pendek dan tidak berbuah. Itu, Mas bisalihat sendiri, pohon-pohon itu ga ada yang tumbuh subur. Daunnya kecil-kecildan batangnya tidak tinggi,” Pak Tua mengarahkanku pada pepohonan di sekitarrumah itu. Aku melihat pohon mangga yang kerdil dengan daun-daun yang tidaksubur.

Ia datang bersama lebih dari seratus keluarga ke Bomberay,sebuah distrik yang bisa ditempuh dengan truk dari kota Fakfak. RupanyaBomberay, tanah yang berawa-rawa itu, bukanlah lahan yang cukup baik untukbertani. Usaha-usaha pertanian  merekagagal terus. Padi-padi yang mereka tanam, seperti dulu ketika dilatih, tidakpernah berhasil.

“Kenapa ya, Mas? Saya di sini tujuh belas tahun itu belumpernah panen padi sendiri. Beras itu selalu beli. Tujuh belas tahun lho,” PakTua itu memprotes nasibnya sendiri.
“Dapat uangnya darimana?”

“Buruh, Mas. Saya kerja jadi buruh. Kalau ada perusahaanmasuk, kerja. Jadi apa saja. Tukang sapu. Tukang cuci. Tukang pikul. Yangpenting kerja. Kalau pas ada proyek pengerjaan jalan, ikut kerja. Begitu terus.Dan ndak tahu sampai kapan,” kata PakTua.

Aku menangkap nada putus asa akan nasibnya yang tidakmembaik setelah mengikuti transmigrasi. Yang ada sekarang adalah perasaansemakin tua, tinggal di tanah asing, tanpa masa depan, dan terdampar. Terngiangdi kupingku,  “Kalau saja saya punyaongkos untuk pulang, saya pilih pulang, Mas.”

Tidak sedikit dari rombongan yang datang bersama sudahmeninggalkan Bomberay. Dari seratus lebih itu, yang sekarang masih bertahan diBomberay tinggal 17 KK. Mereka bernasib seperti Pak Tua itu. Tidak menjadipetani. Tidak menjadi pegawai. Hanya bisa bertahan hidup dengan menjadi buruh.

Aku bertanya tentang pendampingan untuk para transmigran.Dalam ingatannya, pernah ada yang mengatakan bahwa tanah di Bomberay mengandungasam yang cukup tinggi. Orang memberi saran bahwa tanah itu harus diberi kapursebanyak-banyaknya agar bisa ditanami.

“Tapi tidak ada yang mengajari. Kami itu seperti dilepassaja,” ujar Pak Tua.

Aku hanya bisa menduga bahwa transmigrasi yang diikuti olehPak Tua tidak sungguh disiapkan dengan baik. Mungkin lahannya tidak diperiksalebih dulu, apakah memang cocok untuk bertanam padi. Pikiran nakalku berujar,“Transmigrasi itu melulu proyek. Yang penting jalan. Ada anggaran yangdibelanjakan. Apakah nanti nasib-nasib orang itu menjadi baik, itu terserahpada mereka.”

Pada akhirnya, tidak sedikit transmigran yang merana. Yanghidupnya jauh lebih sengsara dan malah terlunta-lunta. Memang ada yang kemudianmengalihkan jalur hidupnya—menjadi pedagang, PNS, dan entah apa lagi.
Siang itu aku bertemu Pak Tua—seorang yang impiannya hancurberantakan di Papua. Kini, ia impikan untuk pulang. Kembali ke kampungnya danhidup damai di sana. Pertemuan tak terduga dengan Pak Tua itu mengguratkansuatu pemahaman yang baru padaku. Transmigrasi, yang dianggap akan menyejahterakanhidup, kadang-kadang malah sebaliknya.

Kami berpisah ketika Pak Tua mesti kembali ke rumahnya padahari yang sudah mulai redup. Ketika jalan-jalan tanah itu tidak lagi berdebu.Ketika anak-anak sudah berhenti bermain dan jalanan berubah sepi. Ia mengayuhpelan sepedanya ke arah Barat, ke arah matahari terbenam.

Sambil memandang Pak Tua dari tepi jalan itu, yang semakinjauh dan terperangkap oleh sinar jingga, batinku berkata liri, “Ia hanya inginpulang...” Dan, aku tidak pernah tahu apakah impian yang tampak sederhana ituakan pernah terwujud.