Rabu, 29 Januari 2014

DUA DOKTER DARI AUSTRALIA DAN PNG OTOPSI JENAZAH DANI KOGOYA

    Almarhum Dani Kogoya ketika berada
    di LP Abepura (Doc. Jubi)


    Jayapura 29/1 (Jubi) – Dua dokter dari Australia di datangkan guna mengungkap penyebab kematian Dani Kogoya yang meninggal di Rumah Sakit Vanimo, PNG. Almarhum sendiri direncanakan akan di kebumikan hari ini.
    Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Papua, Brigjen Polisi Paulus Waterpauw menuturkan bahwa direncanakan hari ini Rabu (29/1) akan dilakukan pemakaman jenasah Dani Kogoya di Vanimo, Panua New Guinea.
    “Makanya Pak Kapolresta kemarin dengan Pak Dandim menunggu kepastian dari Vanimo seperti apa. Kemarin juga baru datang dua dokter dari Australia untuk melakukan otopsi,” kata Waterpauw, Rabu (29/1).
    Waterpauw menambahkan bahwa  informasi yang baru didapat terkait pemakaman almarhum, kuburannya kini sudah di gali. Saat di singgung soal penyebab kematian Dani Kogoya? Ia menjelaskan dari dokter di rumah sakit Vanimo saat menangani almarhum mengatakan penyebab kematian akibat sakit kanker hati yang diderita almarhum.
    “Tapi karena mereka ragu dan saya pikir itu penting tentang transparansi penyakitnya itu. Sehingga dokter dari Australia mudah-mudahan sama ya jawabannya. Tapi saya yakin itu sama,” ujarnya.
    Informasi yang dikumpulkan tabloidjubi.com dari Vanimo, menyebutkan dua dokter tiba di pagi hari tanggal 26 Januari 2013. Kedua dokter, masing-masing Dr. Dodd dari Australia dan Dr. Dr Phillip Golpak dari Port Moresby, bekerjasama dengan pengadilan atas dasar argumentasi medis dan hukum yang kuat. Atas order pengadilan jenazah Danny Kogoya dapat diambil dari negara dan  diotopsi untuk analisa lebih lanjut , dengan menggunakan alat-alat yang memadai . Para dokter rumah sakit Vanimo juga diyakinkan untuk bekerja sama dalam proses ini , meskipun konsulat Indonesia dikatakan telah menekan mereka.
    Usai melakukan Otopsi, salah satu dokter rumah sakit Vanimo sempat mengatakan ketika mereka melakukan X-ray saat Danny datang untuk pengobatan , masih ada residu besar dari peluru di kakinya .
    Kedua dokter ini, setelah otopsi mengaku mereka sangat puas dengan kondisi jenazah yang diawetkan. Meski demikian, Para dokter menemukan delapan residu peluru masih ada di kaki Danny Kogoya. Hati Danny menunjukkan beberapa fitur abnormal. Perut berisi cairan yang masih perlu diidentifikasi dan kepalanya menunjukkan beberapa luka yang tidak biasa. Namun para dokter mengakui harus menganalisa sampel yang mereka butuhkan sebelum membuat kesimpulan akhir.
    Sementara itu, salah satu pemerhati HAM Papua, Matius Murib yang di hubungi Jubi melalui telepon selulernya hingga kini tidak dapat di hubungi.
    Sebelumnya, pihak keluarga Dani Kogoya di Vanimo, Jefrey yang dihubungi Jubi, mengatakan Rumah Sakit Vanimo telah mengeluarkan medical report yang menyebutkan bahwa kematian Dani Kogoya disebabkan oleh racun pada limpanya.
    Medical Report yang menurut Jefrey ditandatangani oleh Kepala Rumah Sakit Vanimo, Kennan Witari ini, menjelaskan ada sejenis virus yang kemungkinan besar disuntikkan ke tubuh Dani Kogoya agar Dani meninggal secara perlahan-lahan.
    “Info dari dokter yang rawat Danny Kogoya di PNG beliau meninggal bukan karena infeksi kaki yang dipotong. Melainkan sebangsa virus yang di injeksi dalam tubuhnya agar dia mati perlahan-lahan. Kata dokter ada komplikasi. Ada reaksi ditubuhnya.” kata Jefrey yang dihubungi Jubi, Rabu (18/12) pagi.
    Diketahui, Dani Kogoya sebelumnya telah melakukan proses hukum terkait tuduhan yang di arahkan kepadanya pasca penembakan dan pembunuhan yang terjadi di tanjakan Nafri, Kota Jayapura yakni pada bulan 1 Agustus menewaskan Empat orang dan November tahun 2011 silam.
    Setahun kemudian tepatnya Minggu 2 September 2012 di Hotel Danny Entrop Jayapura, anggota Tim Buser Polda Papua dan Polresta Jayapura menangkap Dani dengan cara menembak pada bagian kaki kanan dan langsung di bawa ke rumah sakit Bhayangkara, Kotaraja, milik Polda Papua untuk dilakukan pengamputasian kaki kanan Dani yang tertembak.
    Tahun 2013, Sabtu (11/5), Pengacara HAM Papua, Gustaf Kawer, SH kepada jubi menjelaskan bawah Dani Kogoya dibebaskan karena tidak ada perpanjangan penahanan lagi dari Pengadilan Tinggi (PT) sementara sidang masih harus berjalan untuk pemeriksaan saksi-saksi.
    Ia juga membeberkan kasus tersebut menunjukkan kalau pihak yang menangkap dan yang menuntut Dani Kogoya sebagai pelaku penembakan di Nafri terkait kepemilikan amunisi dan senjata hingga bendera Bintang Kejora kesulitan membuktikan tuduhannya alias mungkin direkayasa.
    “Dani Kogoya bebas demi hukum karena masa penahanan habis sementara sidang masih harus berlanjut. Dan tidak ada perpanjangan masa tahanan. Jadi tidak ada alasan untuk menahan dia lagi” kata Gustaf Kawer, pengacara HAM Papua kepada Jubi, Sabtu (11/05) tahun lalu. (Jubi/Indrayadi TH/Victor Mambor)

    Sumber: http://tabloidjubi.com/2014/01/29/dua-dokter-dari-australia-dan-png-otopsi-jenazah-dani-kogoya/

Selasa, 28 Januari 2014

Benny Giay : Papua Bukan Tanah damai, Budaya Ritual Perlu Digali

Ketua Sinode, Gereja Kemah Injil Kingmi Papua, Pdt.Dr. Benny Giay mengatakan, Gereja & Pemerintah bicara tentang papua tanah damai tetapi kekerasan jalan terus, namun mengingat berbagai rentetan kekerasan diakhir-akhir ini, sangat mendesak untuk mengangkat budaya ritual yang ada pada setiap orang asli Papua. hal ini sampaikan melalu jejaring social media faceebok. Selasa,(28/1). Siang tadi.

Waktu dua tahun lalu, sekitar 15 warga terbunuh  pasca perang suku, di Timika, kami  para tokoh agama bicara bagaimana buat program untuk jaga yang baik dan kurangi yang jahat tetapi saat mau ketemu kedua pihak, kami gagal karena di halangi, sebelumnya kami ketemu kedua belah pihak, tetapi TNI PORLI  serang masyarakat yang bersedia bertemu Gereja, “Ujarnya.

 “bagaimana berdamai, sedangkan program damai tidak ada di Papua ?

Maka diharapkan kepada orang asli Papua, perlu menggali kembali budaya ritual yang ada pada orang asli Papua. oleh sebab itu, saya akan menjelaskna sedikit mengenai pengalaman saya . 

Ini pengalama  mengenai budaya ritual, Kata Giay, waktu saya berusia sekitar 6 tahun, sehabis makan malam, bapa dan temannya yang datang nginap di rumah bahas ritual kecil yang katanya mereka harus adakan. Karena anak-anak sudah waktunya untuk saya & kawan-kawan saya jalani itu. 

Besok pagi mereka suruh saya & adik & kami beberapa teman di suruh baris; orang tua mereka sambil taruh tangan di kepala, putar tali dengan tangan di kepala kami, sambil ucapkan doa; semoga berhasil jalan dalam ziarah kedepan; di tengah jalan hadapi kelapran, hujan, dingin, perang, dan kejahatan. 

 lalu satu warga lepas panah, kami di suruh lari pergi ambil panah itu  cari dan bawah kembali. 

Belakangan saya mengerti ini salah satu cara kulture kami siapkan anak-anak sejak usia dini bahwa hidup ini banyak duri. 

Satu tahun kamudian kami masuk sekolah dan juga aktif di sekolah minggu, di sekolah minggu dan di sekolah dasar tidak ada ruang untuk belajar tentang kelaparan, perang, konflik, yang penting terima injil atau “sekolah baik nanti jadi pegawai dapat gaji tinggal di kota nanti semua aman. “ Jelas Alunmi University Amsterdam itu.
Saya kira kita akan happy, Kata Tokoh Papua itu, Baru belasan tahun terakhir saya ingat kembali ritual kecil di kampung itu; saat beberapa kali terlibat dalam pemakaman para aktivis papua yang meninggal (ada yg dtemukan tewas). 

Beberapa  insiden yang ingatkan saya terhadap Alm. pmakaman arnold ap, aten agapa, mako tabuni, & seorg warga yg d tmbak d depan GOR jpr saat tolak otsus, anak2 muda yg tewas d jalan2.
Sy ingat Pak Yoman yg telp saya, 4 atw 5 thun lalu dia pergi makamkan sndiri dgn temannya se org warga yg ditemukan tewas & dibuang d parit. 

Saya juga ingat pernyataan seorng trman 'tugas pndeta itu hanya urus pmakaman. Pernah ada prckapan kecil ttg ini antara sya, pk pdt noakh nawipa dan pk yoman. semua ini ingatkn bhwa ada yg tdak d buka d mmbar gereja & d buku teks d sekolah2 kta.

Senin, 27 Januari 2014

'Terang dan Gelap Di Sekitar kita'

Oleh: Pdt. Dr Benny Giay*)

Waktu saya berusia sekitar 6 tahun, habis makan mlam, bapa dan temannya yang datang nginap di rumah bahas ritual kecil yang katanya mereka harus adakan. Karena anak-anak sudah waktunya untuk saya & kawnn-kawan saya jalani itu. 

Ketua Sinode Kingmi Papua.
Pdt. Dr. Benny Giay. (Foto/ILS)
Besok pagi mreka suruh saya & adik & kami beberapa teman di suruh baris; orang tua mereka sambil taruh tangan di kepala, putar tali dengan tangan di kepala kami, sambil ucapkan doa; semoga berhasil jalan dalm ziarah; d tengah jalan hdapi klapran, hujan, dingin, prang, kjhatan dst lalu satu warga lepas panah, kmi d suruh lari pergi ambil panah itu & cari & bwa kembali. 

Blkangan sy mngerti ini slah satu cara kulture kmi siapkan anak2 sejak dini bhwa hidup itu bgitu. Tdak mulus, ada bnyak duri. Satu thun kmudian kmi masuk skolah dan juga aktif d skolah mnggu. Sjak itu d skolah minggu dan d skolah dasar tdak ada ruang utk bcara ttg klapran, perang, konflik, yg pnting trima injil atau skolah baik nanti jadi pgawai dpat gaji tinggal d kota & smua aman. 

Kita akan happy. Sy kra bagi sbagian, dunia itu masih bgitu. Baru belasan tahun terakhir sy ingat kmbali ritual kecil d kampung itu; saat bberapa kali terlibat dlam pmakaman para aktivis papua yg meninggal (ada yg dtemukan tewas). Bbrapa yg insiden yg ingatkan sy itu alm pmakaman arnold ap, aten agapa, mako tabuni, & seorg warga yg d tmbak d depan GOR jpr saat tolak otsus, anak2 muda yg tewas d jalan2. Sy ingat pk Yoman yg telp saya, 4 atw 5 thun lalu dia pergi makamkan sndiri dgn temannya se org warga yg ditemukan tewas & dibuang d parit. 

Saya juga ingat pernyataan seorng trman 'tugas pndeta itu hanya urus pmakaman. Pernah ada prckapan kecil ttg ini antara sya, pk pdt noakh nawipa dan pk yoman. semua ini ingatkn bhwa ada yg tdak d buka d mmbar gereja & d buku teks d sekolah2 kta. 

Ada sisi gelap yg tdak d buka; hanya terang yg dangkat2. Smntara dunia yg kita jalani: sisi madu & racun. Trmasuk dalam diri kita. Dlm diri kita ada dorongan bawaan utk brbuat & yg merusak atw mmbunuh. 

Saat skitar 15 warga trbunuh d timika dlm prang antar warga d tmika kota, 2 thun lalu dgn para pndt kmi bcarax bgimna buat program utk jaga yg baik & kurangi yg jahat; ttpi wktu mau ktemu kdua pihak yg prang; kmi gagal karena d hlangi, seblum kmi ktemu kedua belah pihak, TNI PORLI sdah serang msyrakat yg siap2 utk bertemu Gereja bgmaimna berdamai. Shg program damai tidak ada tempat lagi. 

Semua prkmbangan d Papua 30 thn trakhir ini mndesak & menigngatkan saya kpada ritual kecil d kampung itu. Brangkli sisi ini yaitu: aspek kkrasan yg destruktif yg trus brkuasa d Papua ini juga harus masuk d kurikulum skolah dri SD - PTvd papua dan mimbar greja; pmbinaan d dua lmbaga d arahkan utk promisikan yg nilai2 baik dari dlm diri kta tetapi juga yg d usahakn oleh adat & gereja. 

Dwasa ini kta d gereja & pmerinta bcara ttg papua tanah damai ttpi kkrasan jaln trus d luar hlaman gereja dan gedung2 sekolah kita. suara mhsiswa dan jemaat; papua bukan 'tanah damai' tetapi 'tanah darurat'; ini juga harus di beri ruang utk d dengar.

 

Minggu, 26 Januari 2014

Dia Dibunuh, “ Mayatnya Hilang” Belum ada Proses Hukum Terhadap Pelaku

Pembunuhan terhadap Riky Zonggonau, oleh Militer Indonesia. Di Paniai, Enarotali. Mayatnya hilang, hingga kini belum ditemukan,  “Tra tau dibuang kemana ?  

   Oleh: Jackson Ikomouw*)

 
Pembunuhan yang dilakukan oleh Militer Indonesia
di Tanah Papua. (FOTO/Dok)
PADA 10 Oktober 2010. Waktu itu menggunakan sebuah kendaraan roda dua (Motor scorpions) saya keliling Kota tua peninggalan Belanda. Saat itu gelap gulita menutup jagat raya di Kota yang pernah dihancurkan Japan pasca perang Dunia ke-II itu. Ketika hendak melintasi jalan raya antara Iyaibutu dan Pasar baru. Tiba-tiba roda dua yang saya kendarai kehabisan bahan bakar/bensing, kemudian saya bermasud untuk menuju ke sebuah warung kios kecil disamping PLN Enagotadi untuk mengisi bahan bakar. Namun dengan sekuat tenaga saya mendorong motor itu.

   “ Kamu .. sungguh…..! saya dorong motor sangat-sangat capeh sekali, sampe keringan mengguyur di tubuhku.

Sambil mendorong Motor, saya melihat ke arah kanan, ada sekitar empat orang sedang buat keributan. Dari ke empat orang tersebut tiga lainnya ada genggam balok lima-lima di tangan mereka. Namun dua detik kemudian, dengan balok yang mereka pegang memukuli salah satu dari mereka itu “hinggah jatuh di tanah”. Ketika dilihat dari pertikaan jalan masuk pasar baru Enaro,  ketiga orang tersebut ada menggantungkan senjata laras panjang dibelakan  tubuh mereka.  Saat itu mereka mengolok-olok sambil memukul.

Ketika lihat dari dekat. waooo ternyata; Anggota Militer 753 yang melakukan pemukulan itu.  Perasaan saya; sangat ketakutan melihat mereka, namun saya dimintah oleh satu anggota untuk tidak memandang mereka, dan bahkan dimintah secepatnya dorong Motor saya, ini kata Dia, Kamu lihat-lihat kesini untuk apa ? Katanya. Perkataan Dia itu bikin saya sangat ketakutan. Cepat, kata Militer itu, “ko dorong ko punya motor itu, dari pada ko dapat tembak, “Tegas Tentara 753 Pos Enarotali itu secara emosional. Namun, dengan perasaan takut, saya mendorong motor kearah Warung/Kios untuk mengisi bensing ecerang.

Saat mengisi bensing, saya dilayani oleh seorang mama asal Butong. Kemudian saya memandang ke arah peristiwa pemukulan tadi. Ternyata, orang yang mereka pukul ditarik kaiya binatang ke dalam sebuah parit di samping kiri. Hal ini telah disaksikan juga oleh Ibu yang penjual Bensin. Kata Ibu itu, “Astafirulah hallajim, mereka berani sekali, masih jam 8 baru lakukan seperti begitu, “Kata ibu yang melayani saya itu.

 Maka, dari ketiga Militer tersebut; dua orang lainnya langsung pulang lewat jalan raya  dengan menggunakan Motor ke arah Kantor Kehutanan lama. Salah satunya,  menuju kearah saya, menggunakan sebuah kendaraan roda Dua. Warna merah. Nomor Polisi sudah dicopot.  Ketika dilihat dari dekat ternyata; anggota Tentara 753, Ia tugas di Pos Enarotali. Postur tubuh tinggi. Bahkan Ia pun ada gantung senjata dibelakan ditubuhnya. Ia sering main Bola Voly. Namanya Muda D. Asal dari Maluku.

Saat Ia tiba depan saya. Awalnya dia perhatikan motor saya, dan memandang  muka. Merasa sangat ketakutan sampe hati buk bak…buk bak..tra bisa tenang, ingin pulang secepatnya kerumah. Namun. Muna pun, mengisi bensin sekitar empat liter ditempat yang saya isi, akan tetapi Ia tidak membayarnya. Saat itu saya berpikir untuk lebih dahulukan Dia meninggalkan tempat  lalu saya pulang dari belakan, dari pada nanti Dia ikut saya dari belakan.

Seusai itu, saya pun langsung pulang ke rumah melalu jalan yang tadi saya lewat. Saat itu saya punya perasaan untuk melihat kondisi tubuh pada orang yang dipukuli, tetapi merasa sangat ketakutan namun saya langsung pulang ke rumah. Ketika tiba dirumah, kejadian tersebut saya ceritakan kepada adik-adik saya, yang  datang bermalam di rumahKu.


Waoo, Sabarah Didepan Rumah

DUA hari kemudian, Pada 13 Oktober 2010. Sebuah Kendaran roda empat atau sabarah milik kepolisian mendatangi  rumahku, saya kaget ketika kendarahan itu berhenti didepan rumah. Dalam sabarah tersebut ditumpangi enam orang. Dari enam orang tersebut, salah satu adalah teman saya Jhon Kobepa. Saya kenal Jhon saat Kulia, Ia se Kampus dengan saya di Kota Bandung, Jawa Barat.

 Saya tanya, Nogeii, mereka dengan masud apa kesini ? Tanya saya dengan perasaan takut, Ah..Nogeii mengenai Insiden kemarin lalu malam itu.  Karena, kata Jhon, “dari pihak kepolisian mau minta keterangan sebagai saksi, “Ujarnya.

“Nogei, siapa yang bilang saya sebagai saksi, dalam kronologis itu ? Tanya saya.

Kata Jhon; “Nogeii ana-ana yang tinggal di ko punya rumah itu yang kastau, kemarin malam ko ada cerita dengan dorang ka ? Tanya Jhon. Kemudian saya menjawab, “yaa, benar Nogeii kemarin  malam pulang dari PLN saya cerita dengan dorang mengenai peritiwa itu.

"bagimana dengan pertiwa itu ? Tanya saya.

Yang  korban dari peristiwa ini adalah Riky Zonggonau. Ia Mahasiswa Akademi Keperawat (AKPER) itu. Sampai saat ini mayatnya  belum ditemukan, “tuturnya. Jadi , lanjut jhon, “Nogei ko jangan takut, kerena ko dipanggil piahk kepolisi hanya untuk diminta data seperti yang  ko saksikan malam kemarin itu. Kemudian Jhon Menambah, Bukan hanya ko saja yang saksi, tetapi ada beberapa ana-ana juga saksi dalam insiden ini.

Kemudian, kami menggunakan Sabarah menuju Kantor Polres Kabupaten Paniai di Kampung  Madi, untuk memberikan keterangan terkait pembuhan terhadap  Riky Zonggonau. Perjalanan yang kami tempu sekitar lima belas menit. Namun kami memasuki ruangan reserse untuk memberikan keterangan.

Walaupun, kami sudah memberikan keterangan terkait pembunuhan, Riky Zonggonau, Mahasiswa Akademi Keperwatan (Akper) sampai dengan saat ini, belum ada proses Hukum terhadap ketiga Anggota Militer Batalion 753 itu.


Ask Jabar AMP Disconnect UN Resolution 2504 and Holds Referendum for Papua

Bandung , STEP MAGAZINE - Dozens of youth , the community and the West Papuan students in Java, which is incorporated in Papua Student Alliance ( AMP ) West Java this afternoon , Tuesday ( 19.11.13 ) staged a peaceful demonstration at the House satay Diponego Road , Bandung , West Java .
They demanded of the United Nations ( UN ) to revoke the UN Resolution 2504 and revisit the political status of Papua to the referendum .
Spokesman AMP , Kobogau Wenas said , " We demand the immediate pull UN Resolution 2504 issued on 19 November 1969 . Resolution was issued in preparation for the implementation of self-determination ( PEPERA ) in July and August 1969 , " he said .
Because he said, the UN resolution 2504 that the UN is a form of insult against Democracy and Human Rights ( HAM ) for the Papua people who should be treated fairly and with dignity .
Wenas said , PEPERA implemented undemocratic and full of manipulation , terror , and intimidation . In fact , he said , catching , pemenjarahan and murder of Papua rakayat done at that time .
In addition , Clear Wenas , PEPERA deny the contents of the New York Agreement in accordance semenstinya International mechanisms that are One man one vote .
" Act of which should be followed by 809 337 in 1024 represented only . Reality show UN involvement in denying the democratic rights of the people of Papua , " he said firmly .
Mass action also highlighted about the PT Freeport Indonesia Contract of Work is performed sebelem perjanjiannnya PEPERA done . Contract work performed before the Act of Freeport Indonesia held , ie 7 April 1967 . That means , PEPERA held just a formality under pressure weapons without UN supervision .
Thus , Wenas said , "The UN should be responsible for hundreds of thousands of people who die due to neglect Papua for this since 1963. UN should immediately unplug the UN Resolution 2504 and revisit the political status of Papua to the referendum for Papua , " he pleaded . ( MS / Jekson Ikomou )
 
Sumber: majalahselangkah.com

Kamis, 23 Januari 2014

BURUNG PIPIT

PADA suatu minggu saya diajak teman untuk mencari sarang burung Pipit. Tepatnya di belakan SMP Negeri Paniai Timur. Saat itu teman saya ada  genggam sebuah parang  pendek ditangannya. Kemudian kami berdua mulai melangkah sambil berdiskusi…

 “Nogeii….waee...Auwee kebooo gaa koukoo bedoo gekaa uminaa tougaii kaa, koudatoo auwaipage,”Kata Gobai
"enaa Nogeii koudatoo auwaii notee. 
Ketika  saya mengatakan hal itu, saya berpikir…
 adoo saya ini belum tau cari sarang burung bahkan belum tahu taktik menangkap burung dalam saran….tra mukin sa dapat sarang burung ? klau untuk Gobai tidak diragukan lagi, sebab Dia sudah pengalaman,.
Seusai kami berdua tiba ditempat.  Gobai mengatakan, Itokoo Nogei akiki Miyouwegaa kouuu, anii amoutoogaa kouuu.
“Enaa Nogeii,”Jawabku
Kemudian kami dua bagi jalan masing-masing, sesuai dengan apa yang temana saya intruksikan
saya mulai cari pelan-pelan sambil mélangkah…ketika memandang ke arah kanan..saya mulai penasaran kerena tempat saya pandang alang-alangnya banyak/tebal namun saya menuju arah itu..pass dilihat dari dekat ternyata sarang Burung Pipit.
Namun, saya pelan-pelan lihat dalam sarang itu ternyata ada tiga butir telur, saya sangat sangat gembira sambil waita..
“Yuu…Yu…Yu…Anii bedoo Geka dogaaa.. Yuu…Yu…Yu…Anii bedoo Geka dogaaa..nogeiii..!
Ketika teman saya dengar suara saya..Gobai mengatakan
…Koyaaa…Koyaooo aee Bedoo gekaa edigaa douu…douuu ….Ogaa kooo beu kaa,”Katanya sambil menuju kea rah saya..Kemudian Gobai Tanya, Napoo Magooo …?
 Nogeii napoo widoo noo.  Gobai, “ enakaa Touuu kadounekaa..Touuu..Kadounekaa nooooo…..Lalu Kawan langsung lihat dalam sarang itu….
Yosafat bertanya, “Napootoo Motinee meee, bedoo maa yakinee ? Katika teman saya bertanya demikian…saya pikir...tidak lama2 saya langsung jawab….
“Nogeii aniikii bedoo too mugaii neee..!
Gobai; enakaa itokoo ! Itatigaa wadiiii dodouuu Bedoo kauwipigai nooo
“Kaaaa Nogeiii Itamaaa wade..wadee koudanitoo nayaikii … odigaa adoupage nooo.
Maka kami berdua meninggal tempat sarang, lalu melangkah ke tempat lain…
Semau maunya saya berniat untuk tangkap sendiri..
Namun beberapa waktu kemudian saya balik lihat saran…pass mendekati saran itu Burung pipit melarikan diri dari saran tersebut
“Sunggu…! saya menyesal skalii…
Gobai: “Ehhh Nogeii Bedoo kauwii negainoo kategaaa kodonoo yukumaa koo, itatigaa wadii kategaa kodookoo…mee puyaa..yokakaa manaa nagage kouyaaa aeee
Ikomou: “Kagiii nogeiiiii..ipaa nayaikaiii kagipaiii..makodoo kaa
Gobai; “Nogeii, Pipaa keiike yagoo tumaa kagipaiiiii, itaatigaa wadeiigaiii….
Ikomou; “Makodoo nuuu nogeii kagipaiii !
Karena za menyesal dengan itu, saya dengan teman Gobai bikin jalan kecil agar bisa menangkap burung dari sarangnya. Sesudah itu kami dua bikin jalan
Saat itu posisi Dia belum dapat satu sarang pun bahkan burung…Namun beberapa jam kemudian. teman saya bantu menangkap burung di sarang lalu dapat dua ekor,
Saya sangat senang skali “Piss Nogeii Naboyawegee kagipaii..Kikakiii
Gobai; “Kateigaii..Yukumaa kodoo mugatoyaa kodoyaa..akii gataa..gataa too tege kiyaaa..
Kedua ekor burung itu saya bagi dengan teman saya, kemudian dengan penuh kegembiraan saya dengan teman Yosafat pulang ke rumah.

Dari pengalaman diatas ini Saya selalu berpikir bawah;  Untuk melawan musuh perlu ada sterategi/taktik agar bisa mengalahkan si Musuh atau Penjahat.

Papua is a mirror of Indonesian democracy

By: Zely Ariane*)

I speak on behalf of Indonesian civil society living outside Papua, who are very much disappointed for Indonesian government’s approach to Papua. I have to say to Indonesian government’s representative here that we cannot fool ourselves any longer for the state of human rights violation in Papua. I have to ask DROI committee of European Parliament for your attention of the situation in Papua.

Democratization in Indonesia is praised by the world. But we should know that after 15 years of Indonesian reform, there is no fundamental change on approach by the government to deal with the Papuan issues, especially on civil and political rights. Military deployment and repression coined during the Suharto dictatorship in order to crush pro independence groups and to secure corporate power is continuing without real civilian control. A peaceful dialogue as a mean to negotiate and find a solution and compromise, as proclaimed by President Yudhoyono in 2010 and proposed by many stakeholders in Papua, is less and less popular within Jakarta’s administration.

For Jakarta, dealing with injustice and poverty in Papua is to eradicate, often arbitrarily labelled pro independence groups and dividing civil society through intelligence operations, dividing administrative regions against the law and the consent of the Papuan people, and pouring in money that spurs corruption and benefits mostly elites and transmigrants. Jakarta’s approach to Papua so far is widely considered as having failed due to its lack of participatory design and the focus on elitist economic than rights aspects.

Jakarta’s approach to Papua today has failed and shouldn’t be continued. The approach is closely tied to the old development paradigm of seeing Papua people as “enemy” rather than family. Do not merely blame Papuan elites for the failure of development. There’s also need to evaluate the policies itself and the way central government seeing Papua.

The implementation of special autonomy law (No.21/2001) and the division of the Papuan Provinces through Presidential decree no.1/2003 have worsened the Papua-Jakarta relations. Without any participatory evaluation of the current policies, the government has formed the Unit for the Acceleration of Development in Papua and West Papua (UP4B) in 2011 and later agreed to the suggestion of Lucas Enembe, Papua governor, to special autonomy plus (2013) which merely means the expansion of the governors’ authority. Democratic rights and participation are lacking in this process.

Until today Papua comprises the resource richest provinces but shows the highest poverty rates and the lowest Human Development Index (HDI) of the country. Jakarta claims that addressing the economic problem through infrastructure, health and education sector development would sufficiently address the grievances of Papuans. However the uncontrolled inflow of development project funds in the widely military controlled province has only spurred corruption and widened the gap between rich and poor.
All eyes are on Eastern part of Indonesia nowadays, and Papua is the star. More investments are expected to go there through the latest economic investment scheme, the Master plan for Acceleration and Expansion of Indonesia's Economic Development (MP3EI). The European Union as Indonesia’s 4th largest trading partner after Japan, China and Singapore and as the second largest investor in the Indonesian economy is likely one of them.

We need to push Indonesian government to have more political openness. Openness in market economy should be followed by openness in political approach to conflict. Dialog is still very much relevant, since it’s never started. EU support and pressure for dialog is important. And in the mean times military deployment should be evaluated and monitored, special UN repertoire should be able to pay visit, human rights defenders and journalists should be protected, political prisoners should be freed—and ones who got very sick and mentally ill are priority—and the rights to assemble and organize protest action should be guaranteed.

A solution to the conflict and violations in Papua can only be sustainable if it is drafted in consultation with the majority of the people, civil society organizations, religious and indigenous groups and leaders, legal provincial bodies such MRP and DPRP.

Jakarta is in a position of no or low interest to the proposed Jakarta-Papua dialog for two reasons: the framework of 'NKRI (Indonesian Unity) not being negotiable' and an increasing climate hostile to human rights highlighted by the absence of fair investigation and trial to any human rights violations cases. Wamena and Wasior human rights violation are two examples of investigated cases of gross human rights violation by National Human Rights Commission but is in a deadlock with the Attorney General.

These are indicators to see the possible change of approach by the central government to Papua. Even though President Yudhoyono has in the past promised his support for a dialogue, these statements have so far not substantiated to a process that Papuans see a progressing.

A growing international concern for the situation in Papua was voiced at the Universal Periodic Report (UPR) in 2012, and from the Pacific nations through the Melanesian Spearhead Groups (MSG).

It is therefore important to continue encouraging the central government side to honour its commitments and to show a visible progress in resolving the conflict peacefully in light of the upcoming national elections between April and August 2014.

An end to human rights violations are the pre-condition to a peaceful and sustainable end of the conflict in Papua that continues to cause the suffering of civilians.



*The author is a guest speaker at the hearing before the Sub-Commission on Human Rights European Union, in Brussels (Belgium). and even the National Coordinator of the Papua Solidarity (NAPAS)*