Tampilkan postingan dengan label Narasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Narasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 April 2014

Laki-Laki Besar, Fatule’u

Mereka gunung, juga punya hubungan saudara
Batu Gunung Fatuleu

Nuale'u
Telur Burung Saliti

Di pulau Timor, ada batu yang tingginya mencapai 875 mdpl, terkenal dengan nama gunug Fatule’u. Kalo anda pernah mengunjungi Kota Kupang, lalu anda pergi ke pantai Kopan yang sekarang lebih terkenal dengan nama pantai Tedys, anda akan melihat batu ini. Diantara semua gunung batu yang berjejer disepanjang pantai Kabupaten Kupang, Fatule’u paling tinggi. Sebenarnya Fatule’u yang kita lihat itu ada 3 rumpun: Tiuknen, Su’oko, dan Fatule’u. Su’oko ini yang kemudian menjadi penjaga kedamaian Fatule’u dan manusia yang hidup disekitarnya.

Jarak tempuh dari kota Kupang menuju Fatule’u makan waktu 2 jam dengan kendaraan bermotor. Ada kali besar, kali Lili namanya; anda harus melewati 2 desa lagi Oelkuku dan Tolnaku, untuk sampai di Nunsaen tempat Fatule’u berada. Sekarang, 2014 jalannya sudah lumayan bagus, bisa dilalui dengan mudah. Kecuali, saat musim hujan.

Suan - Jalal, marga keturunan penjaga Fatule’u. Rupanya, batu ini punya sejarah. Ada roh yang mendiami wilayah batu. Kita harus minta izin masuk dan pamit. Demikian yang disampaikan oleh Wardenes Suan, Trianus Suan, dan yang tertua Tinus Suan. Nuale’u, yang artinya “gua keramat” terletak disebelah timur tepat di bawah batu gunung Fatule’u. Disinilah tempat persembahan tetes darah binatang berupa ayam merah atau babi. Bagi siapa saja yang ingin mendaki, menginap, bersemedi, atau minta restu agar sukses di kehidupan, wajib mempersembahkan ayam atau babi. Syarat lainnya sirih pinang dan uang yang ditaruh dalam “oko mama” dan sopi. Bahasa yang digunakan untuk bicara dengan roh penjaga gunung juga berbeda. Tidak semua orang Timor mengerti bahasa ini. Orang Timor biasa bilang “Natoni”.

Dalam Natoni artian bahasa yang disampaikan intinya bicara tentang hubungan gunung-gunung yang ada di pulau Timor. Mulai dari Atambua, Kefa, Mutis di TTS, Soe, dan Kupang. Mereka, gunung, juga punya hubungan saudara. Ada yang perempuan, ada laki-laki. Fatule’u disebut sebagai laki-laki besar, dia juga yang menjaga saudara-saudara disekitarnya: ada Fatuflolo, Fatubibi, dan Fatutimo.

Sekitar tahun 2000an, pernah ada konflik antara pihak pemerintah dan pengusaha versus masyarakat Nunsaen karena Batu gunung Fatule’u. Pihak pengusaha menemukan kekayaan sumber daya alam berupa marmer pada Fatule’u. Mereka mau tambang tapi masyarakat, terutama keturunan penjaga gunung tidak setuju. Ada LSM lokal yang membantu mengadvokasi masyarakat dan mereka berhasil menjaga keutuhan gunung Fatule’u hingga sekarang.

Dipercaya juga oleh masyarakat setempat, gunung Fatule’u bisa memberikan tanda bahwa di negri ini akan ada kematian orang-orang besar. Peristiwa PKI dan kematian Presiden RI pertama Soekarno, 1965 - 1967, Ibu Tien Soeharto, dan lengsernya Orde Baru hingga kematian Soeharto, Fatule’u telah memberi tanda. Orang-orang tua disini melihat tanda bahwa saat batu-batu besar dari Su’oko-Fatule’u jatuh “tabuang” menuju “Oe-nitu” (air keramat) saat itulah akan terjadi peristiwa besar di Indonesia.

Balik lagi ke Nuale’u, ada banyak celah dan lubang didalamnya. Ini jadi, tempat bersarangnya walet, saliti, dan kalong. Istilah lain untuk Nuale’u oleh masyarakat lokal disebut sebagai BRI. Mengapa? mereka biasa panen sarang walet disini. Namun, kegiatan ini sudah kurang dilakukan sejak peristiwa hilangnya seorang pemuda setempat yang terjebak dalam lubang.

Kedepan, sebenarnya tempat ini sangat menarik untuk dijadikan objek pariwisata. Pihak pemerintah Kabupaten sudah lirik, tetapi kami yang jaga gunung tidak mau jika tidak melibatkan masyarakat adat dalam perencanaan. Biar saja, biar kami jaga. Kami mau, tapi nanti dulu. Ungkap Wardenes, yang saat ini juga menjabat sebagai sekretaris desa Nunsaen, kecamatan Fatule’u Tengah.

Kabut naik di mulut lubang Nuale’u, hampir pagi dingin menusuk tulang, ngilu. Kayu kering lembab, butuh sabar untuk kasi nyala api. Setelah melakukan pendakian ke puncak Fatule’u, Tim Ekspedisi Ungu menginap di Nuale’u. Ternyata Fatule’u yang diam megah ini adalah penjaga. Pastinya kami aman untuk bermalam disini.

Rabu, 23 April 2014

Hanya Surat

Oleh: Meli Hadjo*)
 
Salam Solidaritas,
Kawan, saya ingin berbagi

Mama Anita Prego. (Foto:Meli)
Hari ini, saya kembali mengunjungi mama Anita Prego di Noelbaki, Kabupaten Kupang. Saya pertama kali mengenal mama Anita 2011, saat kami KoAR membawa anak perempuannya, Natersia ikut lomba membaca cepat di Perpustakaan Negara. Sejak itu, saya terus-menerus mengunjunginya. Entahlah, kenapa saya masih melakukan ini. Mungkin karena setelah saya melihat kehidupannya, saya tak ingin mengabaikannya begitu saja. Tahun 2012, Februari sampai April, mama Anita pernah terlibat dengan saya dalam sebuah project pembuatan film dokumenter berjudul “Konjak Julio” yang diselenggarakan oleh Kickstart-Indocs. Film ini juga melibatkan anak laki-lakinya yang berumur 10 tahun bernama Julio, mengangkat kisah seorang anak yang putus sekolah dan lebih memilih menjadi konjak bemo demi membantu ibunya, mencari uang.

Tadi pagi, saya di rumah mereka. Sekarang Julio 13 tahun, ia tidak lagi konjak, ia sudah jadi calo penumpang. Demikian yang mama Anita bilang. Kalo ada penumpang yang turun dari oto Kupang dia bawa pi oto Oesao, kalo penumpang turun oto Oesao, dia bawa pi oto Kupang. Sudah beberapa hari Julio sakit, mama hanya beli obat di kios. Kalo Julio sakit dia tidak kerja. Mama Anita menjelaskan.

Pemerintah memberikan opsi merdeka atau integrasi, keluarganya memilih bergabung dengan Indonesia. Sampai hari ini, meski status kewarganegaraannya jelas Indonesia, mama Anita masih tinggal numpang di tanah milik pemerintah Kabupaten Kupang, rumah yang ditempatinya juga bantuan pemerintah. Mama Anita bilang kalo tanggal 9 April 2014, tidak memilih caleg DPR-RI (name: out of the record) maka mereka harus pindah.

Mama Anita telah menjanda sejak 2009, dengan kondisi hidupnya yang serba kekurangan, ia masih nekat pinjam uang di koperasi tahun kemarin untuk biayai perbaikan kuburan suami dan anak laki-laki sulung. Menurutnya, mereka sudah meninggal, nanti mereka marah kalo kuburannya tidak perhatikan. Sekarang, setiap bulan mama Anita harus ‘stor’ ke koperasi sebesar 100 ribu rupiah. Uang yang didapat oleh Julio dari hasil calo biasa digunakan untuk bantu bayar kredit koperasi atau beli beras. Dapat sedikit-sedikit saja dari Julio, kadang-kadang 10 ribu, 20 ribu.

Kondisi fisik bangunan dalam
Saya numpang tidur di kamar mama Anita. Dia bilang, aduhhh mama punya rumah begini saja, hanya dapur dengan ruang depan. Kalo di Leste rumah besar, ada anak perempuan besar yang tinggal disana. Mama belum bisa pindah, karena masih ada utang. Nanti, kalau sudah lunas mama mau pinjam lagi untuk urus pasport. Mama mau kunjungi keluarga disana, terus balik lagi kesini. Mama mau tinggal disini saja, kuburan suami dengan anak ada disini.

Sudah sore jam 5, bangun tidur, saya lapar. Ada pisang rebus di periuk kecil, saya mengambil sebuah. Mama Anita bilang hari ini beras habis, jadi kita makan pisang saja. Tadi petugas koperasi datang, mama stor. Saya bilang, pisang juga enak, cukup untuk perut.

Dua tahun lalu, uang yang mama Anita pinjam selain digunakan untuk membenahi kuburan keluarga juga ia pakai untuk perbaikan rumah. Bagi saya, ini bukan rumah layak tinggal. Kayu-kayu penyangga rumah mulai lapuk, musim hujan begini, air tanah naik ke permukaan membuat tanah dalam rumah selalu basah. Beberapa hari tidak hujan, lantai dalam rumah masih basah. Mama Anita menutupnya dengan potongan-potongan triplex bekas. Saya memprediksi, tahun depan bila hujan badai datang, rumah ini bisa roboh. Saya membayangkan, bagaimana jika rumah ini roboh saat Mama Anita dan anak-anaknya sedang tertidur pulas. Begitu saja pertemuan saya dengan mama Anita hari ini.

Saya mau pulang, mungkin hari Minggu atau Senin saya akan kembali lagi menemui Mama Anita. Rencananya, saat saya berkunjung lagi, saya bisa membawa sedikit beras atau apapun yang bisa membantu mama Anita.
Malam ini, saya bertemu seorang kawan dan menceritakan tentang kunjungan saya. Teman ini PNS, ia bersedia memberikan jatah berasnya bulan ini 10 kg untuk mama Anita. Dia juga mau memberikan baju-baju bekas layak pakai untuk mama Anita. Terima kasih kawan. Hanya dengan mendengar cerita, kawan mau berbagi.

Saya percaya, masih ada kawan-kawan lain yang bersedia berbagi. Jika masih ada diantara kawan-kawan yang mau berbagi, saya dengan senang hati bersedia menemui kawan-kawan untuk mengumpulkan apapun yang ingin kawan-kawan bagi untuk mama Anita. Pemberian kawan-kawan akan saya teruskan untuk mama Anita dan anak-anaknya.



Salam Solidaritas





Sabtu, 19 April 2014

Mahatma Gandhi: "Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda !!!

 

Di dalam hidupnya, Mahatma Gandi, tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan India dengan cara damai, sering mengutip dari Khotbah di Bukit di Matius 5-7. Seorang misionaris 

E. Stanley Jones bertemu dengan Gandhi dan bertanya,"Sekalipun Anda sering mengutip kata-kata Kristus, mengapa Anda kelihatannya keras menolak untuk menjadi pengikutnya?

Jawab Gandhi, "Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda."

"Jika orang Kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus, seperti yang ditemukan di dalam Alkitab, seluruh India sudah menjadi Kristen hari ini," katanya lagi.

Kita akan mengerti mengapa Gandhi mempunyai pandangan itu jika kita melihat pada pengalamannya saat ia bekerja sebagai seorang pengacara di Afrika Selatan yang menjalani sistem apartheid pada waktu itu. 

Sebagai seorang anak muda, Gandhi sangat tertarik dengan Kekristenan dan ia mempelajari Alkitab dan ajaran-ajaran Kristus. Dia serius mempertimbangkan untuk menjadi seorang Kristen dan mencari sebuah gereja untuk dikunjungi yang dekat dengan tempat tinggalnya.

Di pagi minggu saat ia mau melangkah masuk ke gereja, seorang penerima tamu menghalang langkahnya.

"Mau ke mana kamu orang kafir?" tanya seorang pria berkulit putih padanya dengan nada yang angkuh.
Gandhi menjawab, "Saya ingin mengikuti ibadah di sini."

Penatua gereja itu membentaknya dengan berkata, "Tidak ada ruang untuk orang kafir di gereja ini. Enyahlah dari sini atau saya akan meminta orang untuk melemparkan kamu keluar!"

Suatu tindakan keangkuhan dari seorang yang seharusnya mewakili Kristus menghentikan langkah seorang Gandhi untuk mempertimbangkan Kekristenan bagi dirinya, namun dia tidak dapat menyangkal kebenaran ajaran dan juga teladan hidup Kristus. Itulah yang membuatnya mengangkat hal-hal yang baik yang ditemukan di dalam ajaran dan kehidupan Kristus dan menerapnya sebagai falsafah kehidupannya. 

Di dalam ucapannya kepada organisasi Misionaris Wanita (Women Missionaries) di tanggal 28 Juli 1925, Gandhi berkata, "...sekalipun saya bukan seorang Kristen, namun sebagai seorang pelajar Alkitab, yang mendekatinya dengan iman dan rasa hormat, saya ingin menyajikan pada Anda intisari dari Khotbah di Bukit." Di dalam ucapannya, Gandi berkata bahwa terdapat ribuan pria dan wanita hari ini, yang sekalipun tidak pernah mendengar tentang Alkitab atau Yesus, namun memiliki iman dan lebih takut pada Tuhan ketimbang orang-orang Kristen yang mengenal Alkitab dan Sepuluh Perintah.

Gandhi pernah berkata kepada seorang misionaris yang lain, "Cara paling efektif untuk penginjilan adalah hidup di dalam Injil, menjalaninya dari awal, pertengahan dan akhirnya. Bukan saja mengkhotbahkannya, tapi hidup menurut terang itu. Jika Anda melayani orang lain, dan Anda meminta orang lain untuk melayani, mereka akan mengerti. Tapi Anda mengutip Yohanes 3.16 dan meminta mereka untuk menyakininya, dan itu sama sekali tidak menarik bagi saya, dan saya yakin, orang lain juga tidak akan memahaminya. Injil itu lebih kuat kuasanya saat dijalani/dipraktik ketimbang dikhotbahkan."

"Bunga mawar tidak perlu berkhotbah. Ia hanya menebarkan wewangiannya. Aroma itu adalah suatu khotbah tersendiri...aroma kesalehan dan kehidupan spiritual jauh lebih halus dari wewangian bunga mawar."

Tidak ada orang Kristen yang mawas diri yang akan menyangkal kebenaran kata-kata Gandhi. Di lain pertemuan dengan seorang misionaris, Gandhi berkata, "Jika Yesus datang kembali ke bumi. Dia akan memungkiri banyak hal yang dilakukan di dalam nama Kekristenan."

Saat berbicara dengan misionaris Stanley Jones yang meminta saran dari Gandi, Gandhi menyampaikan, "Pertama, saya menyarankan semua orang Kristen dan misionaris mulai hidup lebih mirip dengan Yesus Kristus. Kedua, praktikkan tanpa mengencerkan atau mengubahnya. Ketiga, jadikan kasih daya penggerak Anda, karena kasih adalah unsur sentral di dalam Kekristenan. Keempat, pelajarilah agama non-Kristen dengan lebih sistematis untuk menemukan kebaikan yang terkandung di dalamnya, agar kalian mempunyai pendekatan yang lebih simpatis."

Gandhi melihat dengan tepat jantung permasalahan yang melanda umat Kristen pada umumnya. Sekalipun, beliau telah meninggal 68 tahun yang lalu, tapi pengamatan masih berlaku sampai ke hari ini. Yang pasti, umat Kristen pasti akan dapat menjadi saluran kasih Tuhan yang lebih efektif jika kita mempertimbangkan sarannya.



Senber: Majalah India

Jumat, 21 Maret 2014

OTSUS PLUS PAPUA BERTENTANGAN DENGAN “KONSTITUSI”

Oleh: Marthen Goo*)

Dalam mekanisme lahirnya sebuah Undang-undang sebagai payung hukum atas pedoman lahirnya kebijakan baru, maka, yang harus diperhatikan lebih jauh adalah mekanisme lahirnya Undang-undang sampai pada keformalan Undang-undag tersebut. Undang-undang tidak bisa lahir atas kepentingan satu atau dua orang tertentu atau memakai nama Negara tanpa melewati mekanisme formal lahirnya sebuah Undang-undang.

Lebih buruk lagi, dalam sistim Konstitusi, oknum atau kelompok orang yang melahirkan sebuah produk hukum baru tanpa melalui prosedural baku, tidak diberikan hukuman dan/atau sangsi hukum atas kebijakan yang bertentangan dengan konstitusi. Tentu, jika ada efek jerah, maka semua pemangku kebijakan akan takut dan hati-hati melakukan hal yang sifatnya bertentangan dengan konstitusi. Sayangnya, hal yang berkaitan dengan penyelewengan Konstitusi terkait dengan lahirnya produk hukum baru yang bertentangan dengan konstitusi belum diatur dalam Konstitusi Negara Indonesia

Terkait Otsus Plus.
Otsus Plus sesungguhnya bertentangan dengan Konstitusi Negara Indonesia. Otsus Plus Un-Konstitusi dikarenakan dua hal, yakni: “Tidak melalui mekanisme Formal dan Tidak ada istilah Otsus plus”.

1. Tidak melalui mekanisme Formal.
Sebuah Undang-undang selalu lahir melalui mekanisme formal, melalui tahapan jejaring informasi, sosialisasi, kesepakatan bersama, dan semua berdasarkan kondisi objektif dari situasi yang terjadi dalam rangka protesi dan pengembangan baik ekonomi, social, politik, budaya dan kesehatan masyarakat setembat. Setelah jejaring, kemudian dilakukan penyaluran aspirasi dari tingkatan terkecil, menengah dan atas, atas rekomendasi-rekomendasi yang bersifat akuntabel dan olistik serta dapat dipertanggungjawabkan bentuk penyalurannya.

Namun, Otsus plus ini, dilahirkan atas pemikiran Jakarta, kemudian atas otoritas Jakarta, Gubernur Papua dipengaruhi untuk menerima Otsus Plus dan memaksa gubernur untuk menindak lanjuti hal itu, walau sesungguhnya bertentangan dengan Konstitusi.

2. Tidak ada Istilah Otsus Plus dalam konstitusi dan Sistem Pemerintahan
Dalam Konstitusi dan khususnya dalam Pemerintahan di dunia mana pun, Otonomi hanya ada dua istilah, yakni, Otonomu Khusus dan Otonomi Daerah. Berdasarkan hal itu, maka, Istilah Otsus Plus yang dihebokan di Papua sesungguhnya bertentangan dengan Konstitusi.

Sehingga, jika hal itu tetap dipaksakan untuk dilaksanakan di Papua, maka, akan mencederai Konstitusi Negara dan akan menjadi bahan lelucon semua pihak di dunia, khususnya bagi mereka yang memahami Konstitusi. Dan sesungguhnya, istilah Otsus Plus “Batal” demi Hukum. Jika kasus ini hendak digugat di MK, maka, MK akan membatalkan Rancangan UU Otsus Plus ini karena mencederai Konstitusi, walau, hal itu akan dipaksakan dilakukan.


Satu contoh kasus Produk hukum yang bertentangan dengan Konstitusi namun dipaksakan di Papua adalah “Impres No. 1 thn 2003”. Impres yang lahir di jaman kepemimpinan Megawati Soekarno Putri tersebut, demi hukum dibatalkan oleh MK, namun, dipaksakan jalan terus dan lahir dua Propinsi baru di Papua, yakni Irian Jaya Barat dan Irian Jaya Tengah, yang waktu itu, terjadi korban nyawa di Timika dan dipending pemekaran Propinsi Irian Jaya Tengah, sementara Irian Jaya Barat tetap dijalankan sistem Pemerintahannya.

Melihat beberapa contoh kasus lahirnya beberapa Payung hukum yang bertentangan dengan Konstitusi namun tetap dijalankan, maka, sesungguhnya telah merendahkan martabat Papua karena di Papua, kebijakan yang dipaksakan hanya kebijakan Politik yang sudah bertentangan dengan Hukum atau Konstitusi Negara.

Melihat hal itu, maka, kesadaran kritis harus lahir, tidak hanya dikalangan Masyarakat dan Pemuda, tapi juga harus lahir di kalangan pejabat, baik di Kabupaten maupun di Gubernur agar tidak ditipu dan dipermainkan oleh Jakarta untuk melaksanakan kebijakan yang bertentangan dengan Konstitusi. Sesungguhnya, Konstitusi sebuah Negara itu bukan untuk dilanggar tapi dipatuhi dan dijalankan berdasarkan Konstitusi yang berlaku.



Penulis: Pemerhati Kondisi Tanah Papua, Beliau Berdomisili di Holandia kini Jayapura




Kamis, 13 Maret 2014

JUJUR YA DIK, “KAKA SUKA SAMA KAMU !!

“Kisah Kasih di Sekolah”

Oleh: Yuliance Kotouki*)

Cinta adalah rasa sayang dalam jiwa setiap manusia dan mempunyai arti yang begitu besar. Seseorang yang baru mengenal cinta  mungkin merasa ada yang berubah dalam dirinya. Merubah cara penampilan, cara berpakaian, cara bicara, dan bisa lebih dewasa. Inilah yang aku rasakan saat mulai mengagumi seseorang, mungkin wajarlah masa-masa beranjak ABG. Ingin mengenal apa arti dari cinta yang sering biasa mereka baca atau mereka tonton di acara televisi.

Hari pertama masuk sekolah. Setelah aku pindah sekolah dari Cimahi, akhirnya kembali bersekolah seperti biasa. Aktivitas rutin yang wajib dilakukan dari pagi pukul 07.00 WIT hingga pukul 13.00 siang semua kegiatan sama saja dengan di Jawa. Selesai upacara bendera, aku mencari dimana ruang kelasku yang baru. Karena aku baru pindah sekolah, semua siswa sibuk mencari ruang kelas mereka masing-masing. 

Setiap daftar nama yang ditempel di luar kelas dipenuhi siswa yang sibuk mencari kelas nya masing-masing. Aku baca satu persatu di setiap daftar. Naah, tercantum nama ku di salah satu ruang kelas yaitu kelas 2 IPA1. Aku pun memasuki ruang kelas baru ku yang begitu ramai. Banyak siswa dan siswi yang belum aku kenal, karena saya siswa baru di sekolah tersebut
Setelah beberapa hari di kelas baru semua siswa sudah saling mengenal dan akrab. Semua siswa berbagi cerita di ruang kelas ini. Saat aku di sekolah aku sebenarnya mengagumi seorang laki-laki yaitu kakak kelas aku, aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu saat upacara hari pertama aku masuk di sekolah tersebut.  

Dia dia ganteng, smart, sopan, mudah bergaul  dengan siapa saja dan dikenal dengan banyak siswa di sekolah. Karena belum kenal begitu akrab aku hanya tersenyum ketika berpas-pasan atau bertemu dengan dia di kantin halaman sekolahku itu, hanya sekedar menyapa. Aku masih malu jika bertemu dengan dia. Yaah, bertemu saja malu apalagi untuk berterus terang perasaan aku ini. 
Semenjak aku kenal dengan dia, aku sering memperhatikan nya. Terkadang aku malu karena ketika aku sedang memperhatikan nya tiba-tiba dia melihat ke arah ku bila bertemu di kantin. Malu sekali rasa nya, aku jadi salah tingkah. Aku pernah mengobrol sesekali dengan dia saat pulang sekolah. Dia menyapaku.

“Hai, kamu belum pulang dek? Lagi nungguin siapa?” kata dia.

“Iya nih, aku lagi nungguin temen. Nanti aku mau berangkat les bareng.”  jawab aku sambil tersenyum. 

“dia meminta nomor hpku”

“saya minta nomer hp kamu donk dek , boleh?”  sambil dia memberikan hpnya kepadaku..

“Mmmmh.. boleh.” Sambil mengambil hp di gengagman ku .

“Ya sudah dek, kakak pulang duluan yaa. Makasih udah di kasih nomer kamu dek, kamu jangan bengong ya nungguin temen nya, nanti kesurupan lagi. Kakak kelasku beranjak pergi sambil menertawakanku...

“Iya sama-sama.. huuuhh ada-ada saja kakak ini.” sambil tertawa juga.

dia pun pergi untuk pulang. Dalam hati aku bicara “ternyata dia orang nya bisa di ajak bercanda juga, mungkin aku bisa lebih dekat dengan dia kalau dia lagi sendiri”
beberapa saat kemudian hpku berbunyi’

“” haloo selamat siang”” jawabku

“” ia selamat siang dek, ini kakak deni , yang tadi pindah nomormu dek’’

“” ouw iya k,, bagaimana k,?? Jawabku

“” besok kakak mau ketemu adik bisa  tidak””  soalnya ada yang kakak mau bicarakan”” 

“” ouw gitu k, ok baik k bisa ko ‘” jawabku

“ ok ade sampai jumpa besok” jawabnya

“ok k..” jawabku

Keesokan harinya seperti biasa, aku berangkat ke sekolah jam 07.00 pagi. Sesampai disekolah aku bertemu kakak kelasku itu. Waktu pun berlalu, tanpa terasa aku sering berkomunikasi dengan dia. Aku hanya berpikir, kenapa aku bisa dekat dengan dia semenjak pertemuan pertama di sekolah.

.  saat jam istirahat dia datang ke kelasku dan menghampiriku.

“Kamu gak ke kantin dek?” tanyanya.

“Gak, aku lagi males keluar kelas.” Jawabku.

“kakak mau ngomong sesuatu sama kamu, jujur ya. Dari pertama kakak melihat adik, kakak suka sama adik. kita sering berbagi cerita lewat telepon. adik mau gak jadi pacar kakak?” dia memandangku dengan penuh harap.

“Mmmhh.. ya adik juga punya perasaan yang sama kaya kakak. Coba yuk kita jalanin. ade juga merasa nyaman bercerita banyak hal sama kakak.”  Memandang ke arahnya sambil tersenyum.

Akhirnya kitapun jadian sampai saat inipun kita masih menjalani hubungan kita, walaupun cowokku di Riau dan sayapun di Jatinangor, namun jarak tak penghalangi hubungan kita.

. Tanpa disadari cinta bisa datang dimana pun dan kapan pun.

Sekian cerita saya. Trimaksih.  (Ini Kisah nyata: saat  di sekolah)

Minggu, 09 Februari 2014

RAKYAT BERMANDIKAN KERINGAT, PEJABAT BERMANDIKAN UANG DAN KEKUASAAN

 (Mencari Titik Hubungan Kekuasaan, Kekerasan dan Korban Di Papua)

Oleh: Dominggus Pigay*)

Di Papua Kekerasan sangat murah harganya dalam transaksi hubungan kekuasaan kepada rakyat. Kekerasan dalam berbagai bentuk dan sifat yang dilakoni para aktor tidak hanya mempergunakan kekuasaan tetapi juga menggunakan sumber-sumber lainnya diluar otoritas kekuasaan. Variabel kekerasan yang dipersepsikan tidak lepas dari perebutan dimensi tahta, keuangan dan sumber daya lainnya dalam jumlah yang melebihi standar yang optimal. Meraup keuntungan dengan menikmati selera yang berlebihan digerakan oleh suatu mata rantai ketamakan yang terbangun dalam suatu sistem sosial yang terintegrasi secara parsial.

Menguras Energi sosial dengan jembatan konstitusi sebagai usaha untuk meredam konflik antara para pemborong kekuasaan dikonstruksikan dalam lingkaran/ring-ring sosial yang berderajad. Derajad kekuasaan dalam sistem birokrasi ini dimaksudkan untuk memperhalus dinamika kekerasan dalam sistem sosial yang tertutup.

Meskipun, jarak sosial antara pemangku kekuasan dan rakyat bersifat hierarkhi sosial-formal, namun terkadang para pesulap kekuasaan ini menggunakan hubungan-hubungan sosial dan kepentingan untuk membangun sebuah "kekuatan baru" di luar sistem sosial dan birokrasi yang memperlancar dinamika kekerasan dalam ruang-ruang yang normal. Bayang-bayang kekuatan baru yang dibentuk ini selain memberi manfaat secara signifikan bagi pemangku kepentingan kekuasaan tetapi juga komunitas sosial di luar lingkaran/ring kekuasaan menjadi sebuah tameng dan objek kekuasaan dari pihak-pihak lain.

Sifat-sifat bayang kekuasaan tidak hanya menjadi sapi perahan bagi para pemegang kekuasaan. Tetapi juga pengelolah kekuasaan tanpa sebuah prosedur dan mekanisme sosial yang terbangun dalam pengontrolan sistem tertulis. Pada titik kekuasan tanpa memiliki hubungan yang melekat pada sistem politik akan membuat goncangan kekerasan para pencipta kekerasan. formula sosial yang dirujuk dalam hubungan dengan bayang-bayang kekuasaan di luar lingkaran kekuasaan yang resmi selalu disetting dalam rangka mengemas paket-paket baru dalam sampul keamanan dan ketertiban.


Gejala sosial yang memblokir dinamika kekuasaan secara massal dilakukan karena bentuk-bentuk kesepakatan para pihak mengalami goncangan. ketidakstabilan hubungan antara rakyat pada pelayanan kekuasaan yang bertolak belakang dengan standar kesepakatan. Rakyat dan gerakan perubahan diciptakan pemangku kekuasaan dalam formula kebijakan resmi sebagai alat legitimasi publik dan alat tawar sosial. posisi dan peran regulasi sebagai kekuatan baru biasanya mengikat komitmen dan kepercayaan. jaminan peraturan yang tidak terkontrol secara tepat oleh rakyat tetapi menggunakan pihak ketiga sebagai wasit membuat kecurigaan antara kombinasi baru.

Sistem kekuasaan di Papua terbagi dalam tiga hubungan kelembagaan masyarkat. hubungan Perwakilan Adat, Pemerintah Pusat, dan Perwakilan Politik Rakyat. Tipologi Kekuasaan para pemangku kekuasaan ini masih memiliki hubungan formal dengan jakarta tetapi hubungan moral dengan masyarakat Papua. Koneksi yang melekat sumber kekuasaan negara membuat kebenaran moral didefinisikan dalam teori kekuasaan yang sifatnya memperkuat derajad legitimasi negara.

Bayang-Bayang pusat kekuasaan ikut membayangi pola dan pendekatan Pilar Adat , pilar agama, pilar perempuan dalam posisi komunitas terbatas. Keberpihakan social terhadap pendekatan kemanusiaan dilaksanakan dengan memahami pengingkaran dari sebab- sebab kekuasaan. Sudut pandang lembaga-lembaga sacral yang mengabdi pada kebenaran transendetal tidak dapat menjadi sarana kompromi terhadap subjek kekerasan yang massif.


Sistem social yang tumbuh melalui inisiatif local masyarakat dalam rangka memberi sumbangsih penyelesaian konflik dilihat sebagai suatu relasi kontradiksi. Pengguna kekuasaan menyadari bahwa tingkat memenuhi suatu kewajaran dalam suatu relasi ditafsirkan dalam hubungan yang berdimensi lapis. Supaya kekuasaan berjalan maksimal, kontak historis dalam perbedaan social menyerupai hubungan vertical. Pola-pola keseimbangan tentang siklus kekerasan dalam tiap unit-unit social secara kontinyu berjalan dalam style sprit yang menanggung beban kekuasaan. Keresahan pada lingkaran actor kekuasaan Negara menjadi sebuah konsultasi social dengan menggunakan media public dalam mencetak pengetahuan baru dalam komunitas yang rendah.


KEKUASAAN
 
Kekuatan yang terbangun dalam pilar adat, pilar agama, pilar pemerintah belum memiliki spesifikasi dan batasan kewenangan yang jelas. Carut dan Marut tentang wajah kekuasaan masih tumpang tindih. Negara berusaha menghilangkan pengaruh dan legalitas adat sebagai otoritas pemegang mandate kultur. Negara berusaha mengontrol adat dengan maksud untuk mendapat legitimasi public menimbulkan kevakuman dan kehilangan spirit kultur yang orisinil. Spirit kebudayaan ada pada system adat. Ketika peran Negara berusaha mendominasi adat kehidupan bangsa sedang mengalami krisis cultural. Identitas social sebagai pilar pertama kehidupan Negara akan kehilangan energy dasar dalam membangun kesepahaman organisasi Politik.

Tipologi kepemimpinan Representasi Kultural dengan kekuasaan pemerintah Negara dilepaskan dari hubungan hirakhis. Kekuasaan Pilar Adat adalah Kekuasaan Kultural yang berbada dengan kekuasaan Pemerintah/ Negara yang berhubungan dengan kekuatan organisasi Politik modern yang berhubungan dengan sumber-sumber politik modern.

Pilar agama yang sebagai pemegang mandat spiritual tentu berbeda dengan kewenangan pemerintah Negara. Negara dengan kekuasaan sumber politik yang mau menekuk dan mengontrol peran iman lembaga spiritual dapat membuat Negara menjadi lemah dalam menerjamahkan pikiran-pikiran rasional dan kritis. Kekuatan agama bersandar pada komitmen iman yang bermuara pada keyakinan yang berorientasi untuk memperbaiki hubungan moral dan menyatakan manifestasi kuasa Tertinggi dari Tuhan.

Hubungan Negara sebagai organisasi politik yang mau mengontrol kekuasaan adat dan agama masih memiliki kelemahan-kelemahan. Negara menjadi Krisis, Agama pun menjadi kehilangan kekuatan profetis bahkan adat sebagai komponen kekuasaan basis hilang kemandirian dalam melaksanakan misi dan nilai-nilai dasar.


KEKERASAN

 


Kombinasi tiga sumber kekuasaan (Adat, Negara, agama) dalam bentuk hirarki kekuasaan tunggal menyebabkan gejala ketidakseimbangan antara kekuatan-kekuatan social. Dominasi Negara dengan memposisikan peran adat dan agama dalam konstitusi yang keabsahannya dikontrol oleh sekelompok pemangku kekuasan tertentu akan mempengaruhi karakter social masyarakat.

Kekerasan secara structural melewati batasan karakteristik social. Struktur kekerasan di Papua berawal dari konsep Negara yang meminimalisir peran lembaga agama dan lembaga adat. Kontrak ataupun perjanjian antara Negara dan pilar-pilar social ditekan dengan cara membatasi struktur-struktur masyarakat yang memiliki legalitas tertentu.

System social yang hancur akibat retaknya modal social dikarenakan oleh kuatnya system Negara yang mengendalikan regulasi public dengan mengabaikan komponen jarak social masyarakat . Konsekuensi logis dari rentannya produk lembaga-lembaga politik dan kekayaan luhur masyarakat yang menjadi simbol identitas pemersatu kultur dieliminasi karena pertimbangan kekuasaan semata.

Kultur kekerasan lahir karena kepentingan social yang tidak berimbang. Mekanisme kekerasan berjalan dalam dinamika reguasi yang belum memiliki stok kekuasaan yang seimbang antara pusat kekuasaan dengan daerah pinggiran kekuasaan. standar kekerasan karena faktor mixing kultur yang belum jelas dalam dinamika kebudayaan di Papua membuat ketegangan social lahir sebagai alasan pembenaran kekuasaan untuk mengatur system Negara yang belum memahami secara matang. Standar Negara dalam membuat formulasi social melalui system Negara dalam sebuah keterpaduan dengan pendekatan antroposentris menjadi bingkai social baru. Kontak social yang multi variable harusnya ditafsirkan dalam nuansa fenomena kultur yang harus terpisah dari elemen-elemen politik yang sarat dengan kepentingan.


Persoalan rakyat dalam dimensi Negara tidak cukup dilihat dalam kaca pandang Negara yang gagal menyusun sebuah konstitusi secara independen tetapi lebih juga kepada hubungan non formal melalui mekanisme social dalam tradisi masyarakat local sebagai media yang akomodatif dan transformative dalam unit social masyarakat. Simbol-simbol kekerasan yang bertajuk cultural menjadi masalah Negara dalam memahami suatu fakta dan system social yang telah terkontaminasi dengan model pemikiran yang agresif.


Tipologi kekerasan karena struktur, peristiwa dan cultural dapat dilihat dalam scope actor social yang memainkan game dalam ranah social yang kompleks sebagai bagian dari resiko konfigurasi organisasi social yang mengabikan kelompok bawah sebagai sasaran yang tidak diberi akses informasi dan format nilai-nilai baru.


KORBAN
Korban di Papua menjadi indicator kegagalan dari pilar agama, pilar adat, pilar pemerintah yang mengusung konsep struktur dan pendekatan Yuridis dan Moral secara mixing. Membentuk hubungan social dalam piramida kekuasaan secara tunggal tidak dapat menjadikan kekuasaan sebagai variable utama.

Nasionalisme dan daya juang para korban tidak terletak pada usaha untuk memberi suatu harapan dalam tradisi birokrasi Negara yang disulam melalui keterpaduan kesepakatan social berdasarkan mandate social, spiritual dan politk. Korban melihat kekuasaan sebagai subjek yang merampas kewenangan-kewenangan tertentu yang bukan merupakan wilayah kekuasaan. Kekuasaan yang destruktif lahir dari kekuasan yang menggabungkan konsep dominasi dan hegemoni negara atas sumber-sumber Negara.


Suara protes para korban sebagai bagian dari sebuah koreksi social dalam memantapkan dinamika social politik yang terus mengalami perubahan. Struktu perubahan, kultur perubahan dan style perubahan tidak hanya berhubungan dengan pencitraan Negara terhadap korban dalam berbagai scenario dan stigma.

Variabel stigma sesat terkadang menjadi kultur Negara untuk membuat proyek kekuasan dalam menata system kenegaraan. Model dan format stigma Negara tidak hanya bersandar pada konsep perjanjian social sebagai komponen dasar menilai system kenegaraan tetapi juga menjadi daya perekat bangsa.

Lemahnya nasionalisme para korban karena suatu kesepakatan social tidak menjadi media perdamian tetapi lebih menjadi kekuatan Negara untuk mendapat legitimasi public dalam hubungan dengan pergaulan social di masyarakat local, nasional dan internasional.


Hubungan yang kendor dalam primate organisasi korban dijadikan patron social dalam mengobati penyakit social. Studi diagnosis tentang tipologo korban dalam memahami sumber-sumber kekuasaan dan konstruksi kekerasan sebagai suatu bentuk rekayasa dapat dilihat dengan memantau secara saksasama ikon-ikon social yang telah memperlemah dinamika perubahan dalam variable kekuasaan.


AKHIR SEBUAH CATATAN
Tipologi struktur dan Peristiwa dari fenomena Kekuasaan, Kekerasan dan Korban berjalan dalam tiga dimensi yang berbeda. Pertama, Dimensi Konfimasi dan Jaringan kelembagaan. Kedua, Dimensi Keterhubungan Peran Lembaga Sosial Negara Yang Acak. Ketiga, Dimensi Konflik antara Korban, Kekuasan melalui media kekerasan yang tersrtuktur diluar system “bayang-bayang kekuatan baru”


Penulis: Tokoh Agama di Tanah Papua

Kamis, 06 Februari 2014

Mereka Bermain di Air Bersih

OLEH: Jackson Ikomouw
 
Saya sering datang di kota Manokwari tapi hanya singgah di Pelabuhan Kapal Laut tujuan Nabire - Jakarta. Namun, belum pernah mengunjung ke pulau Mansinam dan pulau Lemon. Kali ini, saya dapat kesempatan pergi ke sana. Za  diajak kaka Valen Baransano 

Saat itu, Saya datang ke kota Injin di Tanah Papua untuk meliput dua acara. Acara pertama adalah Kongres yang dilaksanakan oleh Komite Nasional Pemuda Papua (KNPP). Acara kedua adalah acara Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil di Tanah Papua. 

Sungguh penasaran membawa saya datang ke pulau Mansinam. Di sana, saya menyaksikan dari dekat salib besar di bibir pantai pulau kecil itu. Menyaksikan masyarakat sederhana di pulau ini pada Senin (5/02) mereka sedang membersihkan disekitar salib besar itu. ini adalah pengalaman menarik, berada di sini. 

Pulau Mansiman dan Pulau Lemon begitu indah. Pulau Mansiman sangat luas skali. Pulau Lemon suasana tampak rame. Terlihat beberapa pengunjung dari Papua dan dari luar Papua. Saya tidak menemukan orang barat di sini.
Mungkin takut datang karena Papua sering diberitakan berbahaya, padahal tidak sepenuhnya benar. Atau mukin Jakarta melarang mereka untuk berkunjung. 

Anak-anak kecil ini sungguh asyik bermain pasir di sini. Sesekali mereka menjemburkan diri di air laut yang sangat jernih ini. Anak-anak yang tampak bahagia ini membuat saya sedikit iri hahaha. 

Mama, za lihat dari dekat begini, mereka bermain di pasir putih dan air jernih, pikirku ketika itu. 

Ricky Awom (9) salah satu anak di Pulau ini mengatakan, pasir laut dan laut adalah teman mainnya. Kalau pulang sekolah saya bermain di sini dengan teman-teman. 

Ricky hari-hari pergi sekolah ke kota Manokwari. Ia seringkali berangkat pukul 05.00. Tapi, jika tidak ada speedboad, ia libur pergi. 

Orang tua dari Ricky adalah nelayan. Beberapa warga lain memberikan jasa angkutan bagi pelancong di pulau ini. 


Sumber: majalahselangkah

Selasa, 04 Februari 2014

Obat Pembesar Panis, “Bukan Budaya Papua” Bebas Beredar di Bumi Cendrawasih

Oleh:Jackson Ikomouw*)

Jackson Ikomouw. (Foto/Dok)
Dari sekian banyak persoalan yang menimpa bumi Cendrawasih, salah satunya adalah meningkatnya peredaran Obat pembesar panis dikalangan pemuda/remaja belum menikah sehingga akibatnya merusak kelamin pria. Persoalan  ini Rumah sakit Umum (RSU) daerah Jayapura telah mencatat 100 Pasien. Menurut; dr. Lucky, Sp.KK, pasien yang datang berobat itu terbukti ada yang menggunakan suntik silicon dan daun bungkus. Seperti diberitakan majalahselangkah.com, Edisi:  Sabtu, 01 Februari 2014 . 

Sadis !  ini akan merujuk pada pemusnaan etnis Melanesia di tanah Papua. Untuk mengantisipasi problem ini, setiap induvidu perlu  ada kesadaran karena ini bukan budaya orang Papua. Sebab, ketika kita menikah akan terjadi kemandulan dan dampaknya hingga keluarga.

Dalam sejarah telah mencatat bawah “Obat pembebas Panis bukan Budaya  orang Papua tetapi dibawah  datang oleh kaum imigrasi dan Transmigrasi ke Papua.”  Rupanya bagian dari upaya pemusnaan ras Melanesia yang dilakukan pendatang di Papua. Kemudian, penjualan  obat pembesar panis di Papua bebas diperjual belikan, dan  belum ada pengawasan dari pihak keamanan hingga saat ini.  Oleh sebab itu dicurigai bawah, pihak keamanan juga ikut melindungi persoalan tersebut untuk membunuh generasi bangsa. Namun jelih dalam memilih hal yang baik dan buruk. Sebab Penjajah pasti akan menggunakan bahasa yang enak didengar, untuk menggoda generasi bangsa. 

Disini saya berbincang-bincang sedikit dari hasil pantauan saya bersama Jemi Pakage diatas Kapal.

Ini Hasil Pantauan

Waktu menunjukan pukul sembilan. Kami menaiki Kapal Ngapulu dari palabuhan laut Samabusa Nabire menuju Pelabuhan Serui. Tujuan kami berdua menuju ke Kota Holandia kini Jayapura untuk daftar Jemi Pakage mengikuti tes pendidikan Militer.

Kapal yang kami tumpangi mulai stom. Tummm..tumm..tumm ABKB siap muka belakan Tummm..tumm..tumm ABKB siap muka belakan Tummm..tumm..tumm ABKB siap muka belakan. Selepas dari pelabuhan Nabire. Ngapulu mulai star menuju pelabuhan Serui. Maka kami berdua mengambil tempat tidur di Dek-4 bagian samping kiri,  dan menyimpang tas/Noken ditempat tersebut. 

Beberapa menit kemudian, teman saya ajak ke cafe untuk mengopi bareng, “Nogeii wadouto Café nauwii ! Enano nauwii nogei.  namun kami berdua menuju ke-Dek 8. Pass  di Dek-7 terlihat orang-orang sedang kerumunan. Karena penasaran menuju  ke tempat tersebut. Katika dilihat dari dekat, Manusia pendek  ini lagi jualan obat pembesar panis semacam minyak gosok. Dia asal Makassar.

Ekpresinya.  Dia bicara banyak untuk menarik perhatian orang-orang disekitaran situ. Kemudian manusia pendek asal Makassar itu bilang; “Pache, Ini  soal harga diri, harganya murah dan bisa pake berulang-ulang kali bahkan dalam waktu seminggu kelamin panjang dan/atau besar.” Sesekali  Dia menunjukan foto panisnya. Dengan foto yang dia potret itu sangat meyakinkan orang-orang  karena panis besar dan/atau panjang sehingga ada yang membelinya. 

Dari hasil pantauan ini; banyak generasi muda yang  belum menikah membeli obat tersebut. Seusai itu saya memintah teman Jemi untuk langsung menuju ke café De-8 untuk ngopi bareng. Demian hasil pantauan saya.

Ketika ditanya Paitua Google. Masuk ke pencarian lalu tulis Papua, Minyak Pembebasar bermunculan dihasil pencarian. Hal ini saya merasa kesal. Pada hal saya bermasud untuk membaca berita tentang soal Papua. Media yang selalu update dan/atau publikasi adalah media http://forum.viva.co.id.  Ini stigma buruk yang dilakukan oleh kaum penjajah terhadap orang asli Papua. Mengapa saya merasa kesal ? sebab ketetika dikunjungi remaja/pemuda yang belum menikah, akan timbul pikiran negative sehingga berniat untuk membelinya. 

Saat dibeli, tentun  belum tahu tata cara pemakaian sehingga akibatnya kelamin rusak dan terjadi kemandulan walaupun masih produktiv. Dalam persoalan ini, kita tidak menyadari sebab kita didoktin bahasa-bahasa enak dicernah. Maka, jangan biarkan persoalan  terus meningkat dikalangan remaja/pemuda di Tanah Papua. Sebab bangsa ini sedang membutukan kami. Untuk melakukan yang terbaik, dan ketika kita lahir diatas bumi cendrawasih demi melanjutkan tongkat estafet para Palawan bangsa Papua gugur dimakan bintang liar.

Ingat ! Kita sebagai generasi Papua perlu ketahui, kita sedang dibunuh melalui berbagai cara. Tetapi kita belum sadar akan soal ini. Namum perlu ada kesadaran pada setiap kita.

Minggu, 02 Februari 2014

Gereja Papua Dalam sejarah Papua Menghadapi Tsunami & Badai Kekerasan Ideologis


 Oleh: Pdt.Dr.Benny Giay*)

Efesus 6:10 - 12 & Matius 10:16
Pdt.Dr. Benny Giay

Dalam catatan sebelumnya saya katakan bahwa menurut pengamatan saya, Gereja kita dan pemerintah seperti menutup mata terhadap kenyataan Papua penuh kekerasan. Ini beda dengan kultur Papua (yg saya sbutkan seblumnya )dan Kristus. Dalam pandangan Kristus, para muridNya (Matius 10:16) dikirim ke dunia di tengah-tengah serigala. Artinya penggambaran terhadap realita begitu itu apa adanya. Tidak ditutup-tutupi. Bahkan cenderung keras. seperti dikatakan Matius.

Gereja dikirim ke tengah-tengah serigala. Ini sama dengan para ahli ilmu sosial yang menggambarkan manusia sebagai serigala bagi sesamanya. Dan menurut saya, Papua dalam 50 tahun terakhir menghadapi kekerasan seperti itu dalam segala bidang. oleh karena itu, mengikuti tradisi para penulis kitab suci, saya sering menggunakan istilah Papua sebagai 'situs keketasan', 'situs penindasan', atau 'situs ratapan anak negeri tiada akhir'.

 Ini penting karena (a) dengan begitu umat bisa mengambil tanggung jawab menyikapi kenyataan penuh kkrasan tu sehingga tidak terlena oneh pesan-pesan gereja dan pmerintah yang menyampaikan harapan-harapan sesaat kepada umat yang hidup dalam Papua yang telah bertahun-tahunt menjadi 'situs pertumpahan darah'; (b) begitu juga bagi gereja Papua yang barangkali segan menelanjangi kenyataan penuh kekerasan apa adanya lantaran terjebak obsesi gereja itu sendiri untuk menyebarkan kabar gembira tetapi dengan konsekuensi menutup mata terhadap kenyataan penuh kekerasan itu. (c) ini juga bisa dmikian karena gereja juga ikut terpengaruh (terkooptasi) bahasa-bahasa propaganda pembangunan dari pemerintah.

Tapi apa sebenarnya akar persoalan dari konflik atau kekerasan yang terus terjadi di Tanah Papua ini? Menurut saya akar persoalan yang mendasari konflik dan kekerasan di Tanah Papua itu tidak lain dari sjarah relasi dua bangsa yang sudah berlangsung berabad-abad jauh sebelum Indonesia menduduki Tanah Papua awal tahun 1960an. Ini berarti beberap hal. 

Pertama, masalah sejarah relasi dua bangsa pra-1960an tidak setara Indonesia yg mngklaim diri 'beradab' dan bhwa Papua sudah berabad-abad berkontak dengan Indonesia sehingga dengan klaim itu dia berhak untuk menduduki atau menguasai Papua. Sebaliknya, Papua yg menganggap kontak Indonesia dengan Papua sebagai sejarah perampokan dan perbudakan yang dikenal sebagai slaven raid dan hongietocht. Dalam konteks itu Papua adalah korban dari perampokkan dan perbudakkan.

Kedua, setelah Indonesia menduduki Papua ia mulai menyebar propaganda. Pihaknya berjanji akan mengangkat orang Papua supaya bisa sejajar dengan suku-suku lainnya di Indonesia. Sementara Papua menertawakan janji-janji dan propaganda itu dengan merujuk kepada perilaku pejabat Indonesia di Papua tahun 1960an yang merampok dan mengangkut semua barang-barang peninggalan Belanda ke Jawa dengan kapal-kapal sambil meneror, mengejar, dan membunuh masyarakat yang dicurigai sebagai kaki tangan Belanda.

Ketiga, pemerintah Indonesia mengeluarkan perintah untuk membakar buku-buku dan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan sejarah dan kebudayaan Papua baik dalam bahasa melayu maupun bahasa Belanda. 

Keempat, memberlakukan karantina politik dengan memaksa penandatanganan perjanjian Kota Baru (sekarang Jayapura) tentang pelarangan partai-partai politik yang sedang berjalan saat itu dan menerima agenda politik Indonesia: PEPERA tidak perlu diadakan karena Papua sudah merdeka tahun 1945 bersama dengan seluruh rakyat Indonesia.

Kelima, sejak September 1966 pemerintah Indonesia mengeluarkan dokumen-dokumen rahasia menuduh gereja Papua mendukung separatisme. 

Keenam, menggunakan paramedis untuk menyuntik peserta PEPERA yang dicurigai akan menyuarakan aspirasi masyarakat untuk menolak bergabung dengan Indonesia.

 Ketujuh, membentuk dan membiayai kelompok-kelompok yang melaksanakan terror dan mempengaruhi masyarakat untuk mendukung agenda politik Indonesia, contohnya Barisan Merah Putih. 

Kedelapan, kebijakkan pemerintah Indonesia tidak hanya menghilangkan atau menghapus separatisme tetapi juga menyuburkan separatisme dengan menyiapkan undang-undang makar yang dengan mudah menjerat para aktivis.

Kesembilan, kesemua langkah diatas dilakukan dalam satu kerangka pembangunan yang ditetapkan Jakarta yang disebut Joko Affandi sebagai kebijakan 'bias pendatang'. Dalam keranga demikian Papua dianggap tidak ada, kalaupun ada ia tidak d beri pilihan lain selain menerima atau melawan. Alias Papua dipaksa untuk menerima kebijakan asimilasi total. Tidak ada kemauan politik untuk mempraktikkan semboyan Bhineka Tunggal Ika di Tanah Papua. 

Belakangan, kebijakan ini diiringi dengan apa yang disebut Wibawanto Nugroho 'degenerative public policy' yang mencerminkan 'degenerative politik Jakarta terhadap Papua' Artinya bahwa Jakarta secara sistematis dan terencana merancang kebijakan untuk terus memperburuk kondisi sosial, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, dan kesehatan. Ini yang sering kali disebut para pengamat kekerasan ideologis atau simbolis.

Menurut saya akar persoalan Papua itu ada di situ. Ini sejumlah hal terkait kultur dan ideologi Jakarta yang mendasari kekerasan dalam segala bidang di Tanah Papua 50 tahun terakhir. Bagaimana kita melihat ini sebagai gereja? Menurut saya ini demonik yang tidak memberi ruang bagi keberlangsungan kehidupan seperti yang dimaksudkan Tuhan. Dan ini yang menurut saya disebutkan Rasul Paulus dalam Efesus 6: 10-12.

Lalu bagaimana kita hadapi permasalah ini? Pertama, saya pikir kita selalu ada pengharapan sebagaimana yang kita temukan dalam (a) ajaran Alkitab; (b) kultur Papua; (c) dalam sejarah gereja; dan (d) dalam diri kita masing-masing. 

Tentu harapan seperti itu harus disertai kerja kras dan tanggung jawab kita; baik sebagai pribadi maupun sebagai organisasi. Kedua, selama ini menurut saya kita di Papua terus melihat ke belakang dan menyalahkan masa lalu; kita seperti terpenjara oleh masa lalu. 

Dalam kesempatan ini saya mengajak kita untuk melihat ke belakang tapi juga membuka mata terhadap realita sekarang dan melihat ke depan; lakukan upaya-upaya untuk mewujudkan harapan-harapan generasi lalu yang belum diwujudkan. Ketiga, ini berarti kita membaca kembali masa lalu dalam rangka membangun masa depan dengan membaca perkembangan Papua sekarang sebagai tanda-tanda zaman (Matius 16:2-3) utk mmbangun masa depan. Lebih konkrit Lagi saya ajak kita semua bisa pikirkan tim kecil yang bisa mencari kemungkinan untuk mempertimbangkan langkah-langkah ini baik di Belanda maupun di Tanah Papua melibatkan semua pihak yang prihatin terhadap Papua pada masa lalu dan sekarang ini.



Penulis adalah Ketua Sinode Kingmi Papua

Senin, 27 Januari 2014

'Terang dan Gelap Di Sekitar kita'

Oleh: Pdt. Dr Benny Giay*)

Waktu saya berusia sekitar 6 tahun, habis makan mlam, bapa dan temannya yang datang nginap di rumah bahas ritual kecil yang katanya mereka harus adakan. Karena anak-anak sudah waktunya untuk saya & kawnn-kawan saya jalani itu. 

Ketua Sinode Kingmi Papua.
Pdt. Dr. Benny Giay. (Foto/ILS)
Besok pagi mreka suruh saya & adik & kami beberapa teman di suruh baris; orang tua mereka sambil taruh tangan di kepala, putar tali dengan tangan di kepala kami, sambil ucapkan doa; semoga berhasil jalan dalm ziarah; d tengah jalan hdapi klapran, hujan, dingin, prang, kjhatan dst lalu satu warga lepas panah, kmi d suruh lari pergi ambil panah itu & cari & bwa kembali. 

Blkangan sy mngerti ini slah satu cara kulture kmi siapkan anak2 sejak dini bhwa hidup itu bgitu. Tdak mulus, ada bnyak duri. Satu thun kmudian kmi masuk skolah dan juga aktif d skolah mnggu. Sjak itu d skolah minggu dan d skolah dasar tdak ada ruang utk bcara ttg klapran, perang, konflik, yg pnting trima injil atau skolah baik nanti jadi pgawai dpat gaji tinggal d kota & smua aman. 

Kita akan happy. Sy kra bagi sbagian, dunia itu masih bgitu. Baru belasan tahun terakhir sy ingat kmbali ritual kecil d kampung itu; saat bberapa kali terlibat dlam pmakaman para aktivis papua yg meninggal (ada yg dtemukan tewas). Bbrapa yg insiden yg ingatkan sy itu alm pmakaman arnold ap, aten agapa, mako tabuni, & seorg warga yg d tmbak d depan GOR jpr saat tolak otsus, anak2 muda yg tewas d jalan2. Sy ingat pk Yoman yg telp saya, 4 atw 5 thun lalu dia pergi makamkan sndiri dgn temannya se org warga yg ditemukan tewas & dibuang d parit. 

Saya juga ingat pernyataan seorng trman 'tugas pndeta itu hanya urus pmakaman. Pernah ada prckapan kecil ttg ini antara sya, pk pdt noakh nawipa dan pk yoman. semua ini ingatkn bhwa ada yg tdak d buka d mmbar gereja & d buku teks d sekolah2 kta. 

Ada sisi gelap yg tdak d buka; hanya terang yg dangkat2. Smntara dunia yg kita jalani: sisi madu & racun. Trmasuk dalam diri kita. Dlm diri kita ada dorongan bawaan utk brbuat & yg merusak atw mmbunuh. 

Saat skitar 15 warga trbunuh d timika dlm prang antar warga d tmika kota, 2 thun lalu dgn para pndt kmi bcarax bgimna buat program utk jaga yg baik & kurangi yg jahat; ttpi wktu mau ktemu kdua pihak yg prang; kmi gagal karena d hlangi, seblum kmi ktemu kedua belah pihak, TNI PORLI sdah serang msyrakat yg siap2 utk bertemu Gereja bgmaimna berdamai. Shg program damai tidak ada tempat lagi. 

Semua prkmbangan d Papua 30 thn trakhir ini mndesak & menigngatkan saya kpada ritual kecil d kampung itu. Brangkli sisi ini yaitu: aspek kkrasan yg destruktif yg trus brkuasa d Papua ini juga harus masuk d kurikulum skolah dri SD - PTvd papua dan mimbar greja; pmbinaan d dua lmbaga d arahkan utk promisikan yg nilai2 baik dari dlm diri kta tetapi juga yg d usahakn oleh adat & gereja. 

Dwasa ini kta d gereja & pmerinta bcara ttg papua tanah damai ttpi kkrasan jaln trus d luar hlaman gereja dan gedung2 sekolah kita. suara mhsiswa dan jemaat; papua bukan 'tanah damai' tetapi 'tanah darurat'; ini juga harus di beri ruang utk d dengar.