Tampilkan postingan dengan label ALAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ALAM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Agustus 2014

Pandangan "Kegoo" di Kalangan Suku Mee, Papua

Oleh: Inatius Fr Bobi*)

Tuan Frans Bobii. (FOTO/Dok)
Papua, Kepercayaan terhadap benda-benda gaib merupakan salah satu tradisi dimasing-masing suku di Papua termasuk suku Mee. Oleh marga-marga yang mendiami pelataran gunung Weyland [Kegata-Makataka], menganggap benda-benda tertentu memiliki kekuatan gaib diluar kekuatan manusia. Matahari, bulan, bintang dan hewan-hewan termasuk kosmos disekitarnya dipandang sebagai pengarah jalan, petunjuk, dan pemberi informasi, [kompas] yang mampu menentukan masa kini, besok dan masa depan mereka.

Hubungan yang jalinan antara manusia dan benda-benda tertentu yang dianggap penyelamat berdasarkan pengalaman yang dirasakan, dialami, dilihat dalam kehidupan sosialnya. Sebabnya dalam proses mempertahankan hidup marga-marga dalam suku Mee memiliki masing-masing kekuatan gaib yang diyakini sebagai dewa penyelamat mereka. Di masa lalu mite “Kego” dipandang sebagai suatu peristiwa pemberi infomasi atas perbuatan yang dicurigai kepada seseorang karena kehilangan barang, kematian seseorang.

Jika seseorang mencuri, atau membunuh seseorang dengan mengunakan jimad, untuk mencari tahu penyebab pelaku atas kematian ataupun kehilangan barang milik orang lain maka kerap kali keluarga almarhum mencari tahu sebab akibat kematian seseorang.

Peristiwa “Kegotai” hanya bisa dilakukan oleh orang khusus [tertentu], yang memiliki hubungan erat dengan benda-benda gaib. Secara harafia’’Kego”memiliki arti pemberi, memberi tahu”, dan Tai artinya melakukan, melaksanakan” merujuk pada gerakan peristiwa tersebut. Maka Kego [benda] adalah suatu peristiwa yang dilakukan guna mendapatkan keterangan atas ketidaktahuan suatu peristiwa, baik kehilangan barang, kematian seseorang.

Biasanya, proses pelaksanaan “Kegotai” oleh orang tertentu mengunakan benda-benda yang didapatkan dari kekuatan gaib atas jalinan tertentu. Penjelasan diatas mendapatkan keterangan bahwa” Kego” menunjukkan benda yang digunakan”sedangkan “Tai” menerangkan atas gerakan yang dilakukan oleh orang yang melakukan peristiwa sacral dimaksud.

Makna yang terkandung dalam proses ini bukan dipandangan sebagai suatu gerakan gargoisme, animism, akan tetapi penghayatan suku yang sudah berkembang, dihayati, diyakini sebagai ciptaan ALLAH [ugatamee,Ugaugamee,]. Karena itu gerakan ini menjadi suatu penghayatan atas kekuatan ALLAh melalui benda kosmos yang diyakininya semenjak zaman Isolemen, zaman Simbiotik hingga zaman Misionaris.

Di kalangan marga-marga suku Mee, paham “Kegotai” merupakan mitos yang dapat memberikan pencerahan dalam kegelapan persoalan bersifat situasional. Ada beberapa jenis “Kegotai” dikalangan suku Mee, diantaranya, Meeyiwi, Tinoubay,[tunibay], Baupana, Duwaikomauga, Pekataumai, Matokatuwai, Bobauga, Matokatuway, Bogauga, Yuweda, Bobauga, dan masih ada yang lain. Berbagai jimaat yang dimiliki akan memberikan suatu pandangan kearah masa depan guna menentukan siapa yang bersalah.

Sejumlah jenis jimaat ini akan bertindak sebagai rambu-rambu untuk memastikan siapa yang mencuri atau membunuh atas suatu masalah. Jika jimaat yang dilakukan itu tidak kena sasaran kepada siapa yang ditujukan maka akan dilakukan pencabutan kembali. Upaya mencabut kembali adat [jimat] yang di lepas kepada orang yang dituduh, maka harus mengumpulkan materi dan kesiapan mental, misalnya, uang, hewan korban, bahkan jimat yang berkelas tinggi harus menyerahkan seorang gadis perawan.

KNPB PUSAT: PENCULIKAN MARTINUS YOHAME, “PEMERINTAH INDONESIA SEGERAH BERTANGGUNG JAWAB !

“Badan Intelijen Negara (BIN) dan Militer Indonesia adalah actor utama yang melakukan penculikan terhadap Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Sorong.

Komite Nasional Papua Barat (KNPB) saat menggelar
Konfrensi PERS, di depan Kantor Wali Kota Sorong.
FOTO:Ones.
JAYAPURA - “Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, segerah tanggung jawab, soal hilangnya Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Sorong, Martinus Yohame, sejak 20 agustus 2014 lalu, yang hingga kini belum ditemukan. Demikian. Kata Sekhertaris Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Pusat, Ones Nesta Suhuniap. Melalui ketarangan tertulis yang diterima media ini.  Senin, (24/8) pagi tadi,

Sebelum kejadian, Martinus Yohame bersama pengurus KNPB Sorong, menggelar konfrensi press di deepan kantor Wali Kota Sorong, sekitar pukul 15.00 WPB. Penyataan yang dilontar pada saat konfrensi pers ialah penolakan mengenai Kedatangan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono (SBY) di tanah Papua, serta menolak Illegal Logging yang sedang beroperasi di seluruh tanah Papua, “Jelas Ones, Senin.

Bahkan, Menurut Ones, sempat juga dapat telfon dari pihak-pihak yang tidak dikenal. “Oleh karenya,  kami menduga bawah Aktor utama yang melakukan tindakan tersebut ialah, Badan Intelejen Negara dan Aparat Militer Indonesia, untuk mengamankan kedatangan SBY sebab sebelmnya,  KNPB menolak kedatangan Presiden Rebuplik Indonesia. “Tulisnya.

Sebelum kejadian, seluruh satuan Militer Indonesia bersiaga  di Papua terutama di Sorong dan  Raja Ampat siaga 1, Sejak  dari tanggal 1 Agustus hingga 23 Agustus 2014.
 
Kami mohon, Tutur Ones, Dari semua pihak advokasi Hak Asasi Manusia ditingkat Nasional maupun internasional, dan aktivis Ham, serta Komisi Ham internasional bahwa, “segera mendesak kepada Presiden Indonesia untuk  mengembalikan Ketua KNPB Wilayah Sorong dengan keadaan baik. 
Sementara itu, pihak Intelkam Polres Sorong mengatakan, Kami akan cari sama-sama. Sebab, selama ini keamanan semua di jaga ketat oleh TNI, “Jangan sampai Ketua ikut terlibat dalam kegiatan di Waisai Kabupaten Raja Ampat” Ujarnya Intelkam polres sorong kota.

Selain itu,  KODIM juga mengatakan hal yang serupa, “Kami selama ini ingin mau ketemu dengan Martinus Yohame karena kami membawa uang dari Jakarta untuk memberikan kepada KNPB tapi kami belum ketemu dengan KNPB” Ujarnya


Ini pernyataan dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Pusat. terkait penculikan.

Namun, Berhubung dengan penculikan Ketua KNPB wilayah Sorong, maka kami KNPB menyampaikan sikap sebagai berikut :
Satu;  Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono (SBY) Gubernur Irian Jaya Barat (IJB) Gubernur Papua Kepala BIN , Pangdam Cendrawasih, Polda Papua segera bertanggung Jawab atas penculikan Ketua KNPB Wilayah Sorong MARTIMUS YOHAME;
Kedua; Kami seluruh Pengurus dan KNPB wilayah sorong sampai merauke mendesak kepada Pangdam Polda Paua Kepala Bin Kopasus Segera kembalikan Ketua KNPB Wilayah Sorong Martinus Yohame sebelum tanggal 1 September 2014;
Ketiga: Aparat TNI/POLRI, BIN, KOPASUS dan Intelejen Indonesia segera hetikan penculikan, Penagkapan, Teror Intimindasi Terhadap Seluruh Aktivis KNPB sorong sampai Merauke;
Ke-Empat; Mendesak Kapolres dan Dandim wilayah Sorong segera bertanggung Jawab dan kembalikan Ketua KNPB wilayah sorong;
Dan yang Ke-Lima; Mendesak Kepada Amesti Internasional, KOMNAS HAM Pusat dan Papua dan lembaga kemanusiaan lainya segera lakukan penjelidikan terhadap Penculikan Ketua KNPB wilayah Sorong Martinus Yohame.

Kelima pernyataan tersebut disampaikan oleh Sekhertaris 1 (Satu) Komite Nasional Papua Barat (KNPB) 


Jackson Ikomouw



Kamis, 07 Agustus 2014

Duamo island has its own uniqueness

Pulau Duamo Memiliki Keunikan Tersendiri

By. Jackson Ikomouw*)

Duamo Island. There is a lake amid TIGI, Deiyai ​​District, Papua Province. There are many fish fishing community. There is also a picnic in December. There was even a cave, and the cave bird nest in the wallet. The potential in this island very attractive to visitors. The visitors usually use boats to reach even seedbok to the island. The island is not Jahu mother Deiyai ​​District Municipality, Waghete. 

Of the many unique stored on the island, one of the most unique on this island is the rhyme of the Lord Jesus and Mary. "Trick to see: Just taru coin one hundred dollars in front of the statue, will itself will appear as statues of Jesus and Mary. 

Statue of Jesus and Mary on the island it is not made ​​by man but has existed since time immemorial, and it is natural. As well, the front of this island, there is a similar stone human face. 

Then, when the season Gurami, the Society held a place of game fishing. They often use baits that are lumit life. Not only that, there is also a picnic even in December, they took B2, noodles, and other daily necessities, and this time I was eleven years old we ever get there. 

It's the story: 
Story Experience Into Duamo Island, "Yeii..Yeii Anukai Adii Maga yee, Ani Uwoo Teuwinoo / Teninenoo! 

At that time, Mando Mote, Fredi Pekei, Ales Mote, Jekson Tekege, Jekson Ikomou Jairus Mote, Orgenes Pekei, Hosea Gobai and Melianus Pekei. We had headed Duamo, in December. We aim for a picnic. Initially we prepare, Rice, Noodles, B2. Etc.. But we headed off the end of a long field Waghete about seven o'clock in the morning. Using a mama-owned parahu Jekson Tekege 

When the circumstances of Lake Tigi, no shady water waves. I shared Orgenes dimintah to row a boat, then I am willing. Arriving mid, because I asked you for Jekson tired Tekege to replace me eventually jekson Tekege willing. Then about eight o'clock we reached the island safely Duamo state. 

We started the movement cook, we eat together after cooking. Shortly we eat, Orgenes Pekei, say, Kowakeii kou biyopa kouya Eniya tougaikai, he said it was to frighten frighten us, because he has experience mennjangkau to Duamo island. 

Orgenes said, "Ikiyaekina kouko Biyopa kouya yamakiyake taiI, eniya nidoteka! When he said that, my heart began to thud-thud-bath tub. But with my fear B2 menaru piece in the corner stone beside me. Orgenes said again, "Keito keike eniyakoo mobu tekai pigaika, Yamaki inoma okeiko ebee ibokaa! the mando beads and other kawan2 also manaru B2 in the corner stone. 

After we ate, Orgenes said, "now we all showered, I want a shower so tra! Then as soon as we opened pakean for bathing, swimming our competing. When our current preoccupation bath, B2 which had us fighting the corner of the stone, he went to take the meal in front of us. It was my emotions ... ..saya skalii said, "Ehh Akii dimibeu Kete, ko kou eniya yamakegai noooo! "Nooo kowakeii Kigadoo heart," he says. 

Mando began to say, "Be..be..be Kowakeii, Mee gadoo ko, ko koudani beu noo !! ..teman-friend lainpun very emotional with Orgenes attitude at that time. 

After that we invite Orgenes streets in the cave, we started early entry, Orgenes said, "Kowakeii Tuba / meenoo Meee gopai kaa noo noo Yamouwiipage ... Owapa Uwii. 

Jairus Mote said, "Beuu..beuu makooo kowakeii, puyapuga noo, noo kou Auwaa domii yenoo koo / MeeBadoo komo kou !! I started very scared, because it was dark in the cave. 

Then we went back to where we cook before, but we prepare all of our stuff down before, when the waves hit the rocks Area Duamo island, and we were swung parahu .. 

Fredi Pekei said, "Kowakeii Ukiya Iboo koo, inikee uwoo uwinakaa! 
Mando: "Bee akiwedagatee, wedaki peukiii heheheheheheeh! 
Fredi: "Beukipakoo, ikiyaa coma koo neukita !! 
Melianus: "akiwedagate, aniyaa keikipigaa 
Jekson Ikomou: "enakaa neukii! 
Jairus, Ales, Orgenes, and Jekson Tekege, we laugh ... 

Later, Alex and Orgenes started rowing boat, but the boat we were riding started mengombang around by the waves. 

My heart started bukbak, "Sunggu, I was so scared, tra say anything at that time. Our Parahu almost tergelam, Mando, Melianus, Jekson Tekege, Fredi, hosea, and I started to cry 
Jekson tekge: Yeii..Yeii Anukai Adii Maga yee, "Ani Uwoo Teuwinoo / Teninenoo !!!!!!!! 
Hosea Gobai: "Yii ... yi ... .Anukaii waeee magiyokaa Duamo megaiii, Aniya kouko paniyai peku noo ko beu !!!! 
Mando: KOwakeii, waiko Okomo yatougaa woniyaiikeii teneukiyaa ... Koukoo iniikee uwoo uwipage nooo !! 
Melianus Pekei, said, "Kowakii gitaa teneukeii ko, wo yatoo okomo tawani noo? 

At that time, Fredi Pekei, subject to Pray, to ask for help to God. If I, just waita course, Yuu Yuuuu..Yuuu ..! In fact, in my heart very frightened by the magnitude of the waves. 

Jairus, Orgenes, and Ales, just laugh, "peu wedako hehehhehehe yokaidoo keee, tikimeitoo enaaaheheheheheh !!! 

Furthermore, Alex and Orgenes not medayung parahu, then we were stranded at the mouth of the times Okomokebo. After arriving at times Okomo, we calmed down and there is no fear anymore. Fredi Pekei, claiming under, I was praying so we survived. 

Jairus said, "Makii second Klasis hehehehehheheheheheh, Akiya tebayam tegee kouya heheheheini crate tegee !!! we all participate ketawan with Jairus words. 

Sunggu Waves on Lake Tigi, severe very severe skali..sunggu skali ... now I can pour with ketawan, then I lost my mind. 

From this story, unfortunately there is a dead world, some of which are still living / breathing. 

You are already dead, as long as the road on the side of God Almighty

Senin, 14 Juli 2014

Mabes TNI & Polri Diminta Awasi Anggotanya Soal Illegal Loging Nabire Papua

Illegal Loging di Nabire Papua. FOTO/ILS
PAPUA, SINews - “Yang selama ini melakukan illegal loging di kawasan Teluk Cendrawasih Kabupaten Nabire-Papua, adalah aparat militer (TNI/Polri) dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang masih aktif.

Mereka dengan sengaja menggunakan intitusi untuk menginjak ha-hak pemilik ulayat. Kata Sekretaris suku Yerisiam, Robertino Henebora ketika dikonfirmasi  www.kaumindependen.blogspot.com  via-seluler, pada,  Senin, (14/7).

Namun. Lanjut Robertino, Kami sebagai hak ulayat meminta untuk segera diusut tuntas persoalan tersebut.

Upaya-upaya kami sedang lakukan guna menuntaskan terkait indisikasi bawah aparat terlibat dalam bisnis kayu di Nabire, maka kami keluarga besar Yerisiam sudah bikin  surat pengaduan
 kepada Kapolres Kabupaten Nabire.

Oleh karenya, kami keluar besar suku yerisiam meminta kepada Mabes Polri/Poda Papua dan Mabes TNI AD/KOREM  segera turungkan tim investigasi untuk memeriksa keterlibatan anggotanya.

 Ini nama-nama Aparat yang terlibat dalm Bisnis Kayu di Nabire Papua

1.      SAID
2.      PONO 
3.      AGUS RUMATARAI
4.      MALIKAN
5.      DIKI

Demikian, laporan ini kami sampaikan kepada Mabes Polri untuk diproses hukum terkait Illegal Loging yang dilakukan oleh aparat TNI dan Polri atau anggotanya.



Jackson Ikomouw


Selasa, 08 Juli 2014

Kepala Suku Yerisyam: Aparat Terlibat Bisnis Kayu Di Nabire Papua

Beberapa truk membawa kayu olahan memasuki gapura pelabuhan laut Nabire. kayu-kayu itu akan diangkut ke luar Papua. Foto:MS
PAPUA, SuNews- Ilegal login menguasai hutan di Nabire. "Pemerintah Daerah Kabupaten Nabire dan Aparat ikut melindungi serta aparat pun terlibat dalam bisnis kayu".  Kata kepala suku Yerisyam, Pdt. S.P. Henebora, pada selasa, (8/7) ketika di konfirmasi melalui handphone. Sore tadi.
                                
Kepada www.kaumindependen.blogspot.com, Pdt. Henebora mengatakan, Pengusah pengusaha di Nabire sedang dan sudah merusak hutan di Nabire.

Selain itu, lanjutnya, Anggota TNI dan POLRI pun beralih profesi menjadi pengusaha kayu, “Malah mereka yang menguasai bisnis tersebut serta melindungi illegal login. 

Harga kayu dinabire dibilang cukup besar, dari satu red kayu yang sudah menjadi bantalan  dengan ukuran bermacam-macam mulai dari ukuran kecil hingga besar

Per-kubik mencapai, Rp.4.500.000,- (Empat Juta, Lima Ratus Ribu) dikalikan dengan satu red = Rp.13.500.000,- (Tiga Belas Juta Lima Ratus).

Harga tersebut membuat para pembisnis kayu mengejar pemilik-pemilik ulayat menawarkan lokasi mereka dengan dalil-dalil yang menggiurkan.

Biasanya, Lanjut Dia, harga perkubik yang di tawarkan oleh para pengusaha kayu adalah; Rp.250.000,- Per-meter Kubik atau dengan Sepeda motor yang kendaraan tersebutpun dengan sistim kredit diler, “Jelas Pdt. Henebora via handpnohe.

Keterlibatan oknum-oknum TNI dan POLRI di Nabire dalam usaha bisnis kayu sangat merajalela.

Data dari Dewan Adat Papua Wilayah Nabire Tahun 2013-2014 bahwa; Keterlibatan TNI dan Polri dalalam bisnis kayu di Nabire sudah mencapai 64% dan terus akan bertambah.

Mereka mengabaikan aturan yang mengikat meraka hingga aturan-aturan Kehutanan yang menjadi payung dalam bisnis tersebutpun diabaikan.

“Persoalan ini tidak bisa dipungkiri karena kontrol pimpinan mereka dan Dinas Kehutanan Kabupaten Nabire serta Dinas Lingkungan Hidup sangat lemah dalam menyikapi soal illegal login.

“Padahal dalam UU No. 34 tahun 2004. Telah mengatur pada Pasal 39 secara tegas menetapkan bahwa prajurit TNI dilarang terlibat dalam berbisnis, “ Jelasnya.

Sedangkan untuk anggota POLRI, Pungkas dalam PP No. 2 Tahun 2003, dimana dalam pasal 5 dan pasal 6 nya terdapat larangan anggota POLRI untuk terlibat dalam berbisnis.

“Jika terjadi pembiaran, Maka akan mengancam hutan di Kabupaten nabire.

Oleh karenanya, Kata Dia, keterlibatan TNI dan POLRI berbisnis telah menginjak-injak harkat dan martabat pemilik ulayat dalam proses bisnisnya dengan pemilik ulayat, karena akan terjadi pengabaiyan pembayaran kubikasi untuk pemilik ulayat dan lain-lain.

Sementara itu, Tim Monitoring lapangan, dari Dinas Kehutanan Nabire, Arnoldus Berotabui, mengatakan, ada enam Daerah Hutan Lindung yang sudah di operasi.

 “Diantaranya, Hutan Lindung, Kali Bambu, Hutan Lindung Kali Oro, Hutan Lindung Ororodo, Hutang Lindung Wadioma, Hutan Lindung Merera, dan Hutang Lindung Wami,  semua itu dikerjakan oleh oknum TNI dan POLRI, “ Jelas Anggota Polisi Hutan, Dinas Kehutanan Kabupaten Nabire itu.



Jackson Ikomow

Senin, 09 Juni 2014

MENGENAL DAN MENCINTAI PAPUA LEWAT AKSI DIRI.

Peta Papua. Foto/ILS
*Oleh: Mando Mote*)
 
Papua merupakan sebuah pulau yang memiliki berbhineka macam  sumber daya yang meliputi kebhinekaan sumberdaya alam, sumber daya manusia bahkan dalam konteks kebnikekaan manusia memiliki beragam kultur, tradisi dan cara pandang juga. Keberaneka ragaman itu hanya ada di Papua. berbagai macam  sumber daya alam dan sumber multi tata susila adalah kekuatan bagi papua bahkan dengan melihat dari keragaman itu orang luar Papua mengaku dan menyatakan Papua adalah jaminan segalanya, juga sulit melepaskan Papua.Papua harus dijungjung tinggi meskipun kecilkan oleh beragam actor juga di selah dikecilkan orang aslinya dengan melandaskan perlakuan yang tidak logis.

Mengenal Papua juga merupakan suatu keharusan dengan beragam aski yang multak. Papua secara historis belakangan, Papua kini secara situasi kondisi yang diperhadapkan, bahkan papua pada hari esok. Mengenal Papua bukan hanya dari sisi power dari kepemilikan sumber-sumber yang ada . Mengenal secara historis juga merupakan mengaca setiap pijakan Papua dari masa dahulu yang mana dalamnya ada nilai-nilai positif dalam kehidupan manusia Papuani secara kolektif bahkan secara sub wilayah adalah kultur dasar hidup. Masih banyak hal yang kita mesti jangkau dan gali kebelakang untuk menunjang tata laku dan tata kehidupan manusia asli papuani di atas tanah leluhurnya.


Historis mengajak juga kaum  yang menganut paham niscaya mengenal dan mendalami sejarah bangsa Papua secara mendalam. tak kenal sejarah maka lupa akan jatidiri, identitas bahkan harkat. Papua sementara dengan bingkai belanda sudah bagimana dalam kontek peradaban bangsa Papua dan setelah bergabung dengan negara kesatuan repiblik Indonesia serta kenapa berintegrasinya.

Hal lain juga dari konteks historis terus mengajak kita orang papua untuk mengenal papua datang dari mana, sedang dimana dan akan kemana perubahan dan peradaban negeri dan orang asli papua di atas bumi cendrawasih.

kesadaran papuani sebagai Melanesia yang memiliki satu etnis dan dari sisi juga Methu Badii menekankan bahwa perlu kita mesti sadar bahwa,saya adalah orang papua,akui apa yg ada pada kita masing2,saya kiriting itulah saya,saya hitam itulah saya,meskipun dijelekin,meskipun dicaci maki,saya tetap saya,bukan anda, peganglah idelogi papuani yg Tuhan sudah tanamkan dalam peribadi kita. kita jgn terjebak dlm budaya- budaya  baru-baru  yg dapat mengancam eksistensi kehidupan orang papua dan milikilah serta tanamkan sikap itu.

 Paham Methu Badii juga selaku wartwan Muda yang memiliki multitalenta adalah lebih menekankan eksistensi kita tetap eksis dan berpegang teguh, juga  tidak perlu kita terbawa arus dengan arus jaman globalisasi yang modern ini. Merasa diri aku adalah Papua sehingga kapanpun, dimanapun, dengan siapapun aku tetap Papua. Prinsip pijakan hidup untuk mempertahankan jatidiri kepapuaan termasuk wujud pengenalan dan pendalaman terhadap Papua.


Mencintai Papua

Aksi yang merupakan gerak itu penting. Suatu peradaban akan ternampak dan terwujud andaikata aksi senatiasa bertahap dan sistematis. Beranjak dari topic di atas makan mengenal dan mencintai papua tanpa aksi maka rekasi hanya ada harapan. Aksi diri dalam rangka mengenal dan mencintai merupakan wujud proses kemajuan demi memburu peradaban negeri dan akar rumput sesama.

 Aksi diri dalam kontek cintai Papua adalah suatu yang hal multak dinampakkan oleh manusia asli papua demi sesama manusia. Cintai papua berdasarkan eksistensi dan kedudukan tugas adalah penting. Kutipan dari catatan Marko Pekei pada beberapa minggu lalu di media Facebook bahwa “”Papua menunggu anak muda yang siap kerja’’ itu juga bagian dari aksi.untuk mencintai Papua.

 Konteks aksi dalamnya ada gerakan dari diri kita yang bisah mewarnai dan/atau mempengaruhi sesame manusia Papuani. Aksi diri bisah membawa perubahan bagi sesame manusia Papua melalui banyak jalur dan hal itu dilihatberdasarkan keberadaan dan kedudukannya. Sebagai mahasiswa tentu aksinya adalah mendalami, menekuni, menimbah pendidikan entah itu melalui formal atau nonformal dalam rangka memburu perubahan dan kemajuan Papua. lalu untuk para kaum intelek memberikan kontribusi persepsi atau wujudnyata sesuai apa yang didapatkan kepada publik. Sedangkan para publik figure pun maju membangun dengan melandaskan nilai-nilai ideology agama dan budaya kehidupan Papuani.

 Mengenal dan Mencintai itu hal yang penting dibangun melalui diri kita, sebab dampaknya oleh kita dan untuk kita. Tidak akan ada reaksi andaikan cinta kasih sayang papua sudah ada lalu aksi  dimulai dari diri kita, dari hal kecil dan dimulai dari sekarang tidak ada. Maka pentingnya kita wujudkan kontek mengenal dan mencintai Papua lewat aksi diri ( dari kita, oleh kita dan untuk kita___ dari kita dari kecil dari sekarang).



Penulis adalah Purna  IPDN, kini sekarang berdomisi di Papua

Senin, 02 Juni 2014

POLDA PAPUA TIDAK PUNYA HAK URUS HUTAN DI NABIRE

http://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2013/05/Hutan-hutan-keramat-Nabire-yang-dibongkar.jpg
Hutan di Kabupaten Nabire. FOTO/Ilustrasi
Nabire, SUARA INDEPENDEN - Team yang diutus POLDA Papua tiba di wilayah Nabire. Untuk mengurusi persoalan kayu di Kabupaten Nabire, namun mendapatkan protes keras dari Polisi Hutan Dinas Kehutanan,  Kabupaten Nabire. Pada Sabtu, (17/05/2014) lalu.

Anggota Polisi Hutan, Dinas Kehutanan Kabupaten Nabire, Arnoldus Berotabui , kepada media ini mengatakan,  " Tim yang di bentuk oleh Polda Papua perlu tahu aturan, jangan intervensi tugas dan fungsi Dinas Kehutan Kabupaten Nabire.

 “Mereka datang seperti pencuri, dan tidak menghargai kami Polhut lalu langsung melakukan sweping-sweping kayu di jalan. Padahal itu urusan kami, dalam memeriksa ijin usaha-usaha kayu di Nabire, “Tegasnya.

Menurut Arnolus, Polhut itu di bentuk oleh Dinas Kehutanan untuk mengontrol hutan di Nabire serta mengontorol aktivitas  penggergajian kayu, “Jelasnya.

“ Jadi sanggat tidak benar Polda turun dan sweping kayu di nabire, mereka punya urusan apa? Kata Bero.

Maka perlu diketahui bawah, Lanjutnya, Tim Polda Papua yang tiba di nabire pada hari sabtu minggu lalu. Tidak tahu jelas tujuan utama mereka, apa mereka  mau memeriksa ijin atau ada udang di balik batu, untuk kepantingan disisipkan


Oleh karenanya, kami  akan meminta pertanggung jawaban kepada Kapolda Papua tentang tim yang di utus tersebut. Hal tersebut disampaikan oleh Arnoldus Berotabui kepada suaraindependen, Minggu, (1/6) melalu press reases yang diterima media ini.

Selasa, 29 April 2014

ARNOLD AP : PAHLAWAN MUSIKOLOGIS!


Oleh:  Titus Pekei





MENDIANG ARNOLD AP, 26 APRIL 1984 - 26 APRIL 2014.

Ia seorang putra pulau alam tanah Papua,
Ia akademisi, antropolog dan musisi pada masanya,
ia menghadirkan karya2nya luar biasa tanpa batas.
ia menyatukan lewat syair, terus menyapa kaumnya,
ia menitipkan semangat pada zamannya, menatap jauh,
ia lahir 1 Juli 1945 dan diambil - 26 APRIL 1984 = 30 Thn silam.
ia tlah tiada, jiwanya hidup bersama kaumnya.

ia manusia menyemangati manusia secara konsisten,
ia penerus mata budaya leluhur lewat syair hingga kini,
ia mengangkat dan menyapa alam dan penghuninya,
ia mengingatkan kaumnya tetap semangat bersyair,
ia mengikat batin lewat karya syairnya, tanpa bantas zaman.

ia seorang musisi khas,
ia seorang penyair unik,
ia seorang gitaris alami,
ia seorang penyanyi budaya luhur,
ia seorang penghibur tanpa batas,

ia maha guru yg patut di tiruh oleh kaumnya,
ia pahlawan penyemangat dari sanubari,
ia konsisten sampai 26 April 1985,
jasamu dikenang selamanya.
jasamu tetap hidup selamanya.
salam mendiang, Arnold Ap.
26 April 1984 - 26 April 2014.



Penulis adalah: Penggagas Noken Papua ke Dunia UNESCO


Sabtu, 26 April 2014

Laki-Laki Besar, Fatule’u

Mereka gunung, juga punya hubungan saudara
Batu Gunung Fatuleu

Nuale'u
Telur Burung Saliti

Di pulau Timor, ada batu yang tingginya mencapai 875 mdpl, terkenal dengan nama gunug Fatule’u. Kalo anda pernah mengunjungi Kota Kupang, lalu anda pergi ke pantai Kopan yang sekarang lebih terkenal dengan nama pantai Tedys, anda akan melihat batu ini. Diantara semua gunung batu yang berjejer disepanjang pantai Kabupaten Kupang, Fatule’u paling tinggi. Sebenarnya Fatule’u yang kita lihat itu ada 3 rumpun: Tiuknen, Su’oko, dan Fatule’u. Su’oko ini yang kemudian menjadi penjaga kedamaian Fatule’u dan manusia yang hidup disekitarnya.

Jarak tempuh dari kota Kupang menuju Fatule’u makan waktu 2 jam dengan kendaraan bermotor. Ada kali besar, kali Lili namanya; anda harus melewati 2 desa lagi Oelkuku dan Tolnaku, untuk sampai di Nunsaen tempat Fatule’u berada. Sekarang, 2014 jalannya sudah lumayan bagus, bisa dilalui dengan mudah. Kecuali, saat musim hujan.

Suan - Jalal, marga keturunan penjaga Fatule’u. Rupanya, batu ini punya sejarah. Ada roh yang mendiami wilayah batu. Kita harus minta izin masuk dan pamit. Demikian yang disampaikan oleh Wardenes Suan, Trianus Suan, dan yang tertua Tinus Suan. Nuale’u, yang artinya “gua keramat” terletak disebelah timur tepat di bawah batu gunung Fatule’u. Disinilah tempat persembahan tetes darah binatang berupa ayam merah atau babi. Bagi siapa saja yang ingin mendaki, menginap, bersemedi, atau minta restu agar sukses di kehidupan, wajib mempersembahkan ayam atau babi. Syarat lainnya sirih pinang dan uang yang ditaruh dalam “oko mama” dan sopi. Bahasa yang digunakan untuk bicara dengan roh penjaga gunung juga berbeda. Tidak semua orang Timor mengerti bahasa ini. Orang Timor biasa bilang “Natoni”.

Dalam Natoni artian bahasa yang disampaikan intinya bicara tentang hubungan gunung-gunung yang ada di pulau Timor. Mulai dari Atambua, Kefa, Mutis di TTS, Soe, dan Kupang. Mereka, gunung, juga punya hubungan saudara. Ada yang perempuan, ada laki-laki. Fatule’u disebut sebagai laki-laki besar, dia juga yang menjaga saudara-saudara disekitarnya: ada Fatuflolo, Fatubibi, dan Fatutimo.

Sekitar tahun 2000an, pernah ada konflik antara pihak pemerintah dan pengusaha versus masyarakat Nunsaen karena Batu gunung Fatule’u. Pihak pengusaha menemukan kekayaan sumber daya alam berupa marmer pada Fatule’u. Mereka mau tambang tapi masyarakat, terutama keturunan penjaga gunung tidak setuju. Ada LSM lokal yang membantu mengadvokasi masyarakat dan mereka berhasil menjaga keutuhan gunung Fatule’u hingga sekarang.

Dipercaya juga oleh masyarakat setempat, gunung Fatule’u bisa memberikan tanda bahwa di negri ini akan ada kematian orang-orang besar. Peristiwa PKI dan kematian Presiden RI pertama Soekarno, 1965 - 1967, Ibu Tien Soeharto, dan lengsernya Orde Baru hingga kematian Soeharto, Fatule’u telah memberi tanda. Orang-orang tua disini melihat tanda bahwa saat batu-batu besar dari Su’oko-Fatule’u jatuh “tabuang” menuju “Oe-nitu” (air keramat) saat itulah akan terjadi peristiwa besar di Indonesia.

Balik lagi ke Nuale’u, ada banyak celah dan lubang didalamnya. Ini jadi, tempat bersarangnya walet, saliti, dan kalong. Istilah lain untuk Nuale’u oleh masyarakat lokal disebut sebagai BRI. Mengapa? mereka biasa panen sarang walet disini. Namun, kegiatan ini sudah kurang dilakukan sejak peristiwa hilangnya seorang pemuda setempat yang terjebak dalam lubang.

Kedepan, sebenarnya tempat ini sangat menarik untuk dijadikan objek pariwisata. Pihak pemerintah Kabupaten sudah lirik, tetapi kami yang jaga gunung tidak mau jika tidak melibatkan masyarakat adat dalam perencanaan. Biar saja, biar kami jaga. Kami mau, tapi nanti dulu. Ungkap Wardenes, yang saat ini juga menjabat sebagai sekretaris desa Nunsaen, kecamatan Fatule’u Tengah.

Kabut naik di mulut lubang Nuale’u, hampir pagi dingin menusuk tulang, ngilu. Kayu kering lembab, butuh sabar untuk kasi nyala api. Setelah melakukan pendakian ke puncak Fatule’u, Tim Ekspedisi Ungu menginap di Nuale’u. Ternyata Fatule’u yang diam megah ini adalah penjaga. Pastinya kami aman untuk bermalam disini.

Kamis, 24 April 2014

IMPIRIALISME MODEREN MASIH MENJAJAH INDONESIA

“Untuk lepas dari perbudakan Impirialis moderen, solusi yang harus ditempu adalah  setiap Suku bangsa yang ada di setiap Wilayah di Indonesia perlu mendirikan negara masing-masing, sebab berdirinya negara ini hanya menguntungkan kapitalisme, dan Impirialisme asing”






Oleh: Jackson Ikomouw*)
Jekikom, Foto Dok
Indonesia menyatakan dirinya sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945, tetapi rakyatnya masih di jajah oleh pihak asing. Kemudian, Indonesia pun memiliki sumber daya alam yang berlimpah yang mampu merubah nasib rakyat. Namun, nyataan di kerut oleh Kapitalisme asing. Keburukan bangsa ini benar-benar nyata hingga dampaknya dirasakan oleh rakyat kecil di Indonesia. Selain itu, angka pengangguran dan kemiskinan terus meningkat dari sejak Indonesia di Proklamasikan sebagai sebuah negara sampai dengan saat ini.

Eksitensi bangsa ini, ibaratnya: “ sebuah kapal yang berlayar tanpa tujuan”. Resim berganti lima (5) tahun sekali, namun kehidupan masyarkat belum ada perubahan (Transpormasi) malah kekerasan yang terus meningkat bahkan sumber daya alam pun terus di ekplotasi ke keluar.

Disisi, Sumber daya manusia. Indonesia memiliki pakar-pakar yang mempu mengelolah hasil buminya, akan tetapi bahan menta terus di bawah ke keluar, “hanya hasil jadian yang di gunakan . Hal ini merupakan gaya bermain Impiarialisme modern saat ini. Persoalan ini “benar-benar terjadi di Indonesia.

Suku bangsa di Indonesia harus menyadari, dan renungkan dengan kondisi yang sedang terjadi  saat ini. Apa bila sudah menemukan jawabnya, apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan eksitensi suku bangsa yang ada di setiap wilayah ? sebab Indonesia belum pernah memberikan kontribusi kepada masyarakat kecil. Maka, “Harus mendirikan negara masing-masing, wilayah yang masudkan adalah, Aceh, Papua, Kalimantan, Ambon, Sunda Jawa Barat, Jogyakarta, dan beberapa wilayah lainnya.  Perlu terus mendorong untuk mendirikan Negara masing-masing. Mengapa harus berjuan untuk Referendum ? karena berdirinya Negara Indonesia, hanya menguntungkan pihak Impirialisme dan Kapitalisme. Nyatanya sedang terjadi saat ini.
 

Rabu, 19 Maret 2014

BEKERJA TANPA AMDAL DAN LECEHKAN HAK ADAT


(Kasus PT. Nabire Baru di Kabupaten Nabire)


OLEH: JOHN NR GOBAI

PENGANTAR


Tanah Papua, tanah yang kaya, Surga kecil yang jatuh ke bumi, itulah lagu yang dinyanyikan akhir-akhir ini oleh masyarakat Papua, untuk memuja keindahan dan kekayaan alam Tanah Papua. Kabupaten Nabire adalah salahsatu Kabupaten di Tanah Papua yang telah dikenal luas sejak tahun 1990/1991 dengan masuknya perusahaan HPH, PT.Sesco dan adanya kegiatan pendulangan emas di daerah Uwapa dan sekitarnya pada tahun 1996 sampai sekarang, dan akhir-akhir ini nabire menarik dengan adanya Perkebunan Kelapa Sawit di Kampung Sima dan Kampung Wami, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire.


HPH DAN KELAPA SAWIT

Sekitar tahun 2003, ada tiga perusahaan masuk di daerah ini. PT.Pakartioga,PT.Junindo dan PT.Kalimanis (PT.Jati Darma Indah/JDI). Dalam Izin HPH, masa operasi JDI berakhir tahun 2017 dengan operasi di Barat dan Timur Kota Nabire.Hampir sebagian besar Teluk Cendrawasih.

Kehadiran perusahaan-perusahaan ini telah meninggalkan berbagai masalah antara lain, adanya tenaga kerja yang didatangkan dari luar, adanya konflik internal masyarakat terkait kehadiran perusahaan, kekerasan baik secara psikis maupun secara fisik yang dialami oleh masyarakat, janji-janji muluk perusahaan yang tidak ditepati oleh perusahaan.

            Menurut Tabloit Jubi, Edisi II,  Sekitar tahun 2007, PT JDI yang telah mengantongi izin hingga 2017 tadi, menggandeng PT.Harvest Raya dari Korea untuk membuka kebun Kelapa Sawit di wilayah ini. Saat itu PT.Harvest Raya ditolak masyarakat karena dianggap akan mengancam hutan dan masa depan anak cucu mereka. Tetapi penolakan menyisakan polemik ada marga yang menolak tetapi ada keluarganya yang menerima. Penolakan itu didasarkan oleh karena pengalaman perkebunan kelapa sawit di Arso dan Lereh yang juga belum mensejahterahkan masyarakat.

Dalam situasi ini PT. Nabire Baru dengan menggunakan pendekatan lain kepada masyarakat setempat dan Tokoh-tokoh Masyarakat lain yang mengatasnamakan masyarakat pemilik tanah, puncak dari pendekatan ini dilakukan Doa Bersama untuk membuka lahan lahan perkebunan kelapa sawit, dalam Doa Adat itu disepakati uang gantirugi lahan sebesar Rp.6 Milyar, yang sebelumnya adalah wilayah HPH milik PT.Jati Darma Indah (JDI) yang memperoleh ijin yang berakhir pada tahun 2017
Diduga juga akibat dari pendekatan yang gencar dimainkan oleh beberapa Tokoh Masyarakat Papua di Nabire (bukan pemilik hak ulayat) terhadap pemilik tanah 
Banyak cara dilakukan untuk mendapatkan lahan kelapa sawit ini, antara lain dengan memberikan harapan-harapan akan hidup yang lebih baik, mengadudomba antara masyarakat, juga dengan terror-teror mental, intimidasi dari oknum aparat yang ditempatkan sebagai security didalam perusahaan sehingga pemilik hak ulayat merasa takut dan tidak akan melawan perusahaan dan melakukan pendekatan jalan mengajak minum minuman keras dan pesta pora, akhirnya lahan HPH Jati Dharma Indah telah berubah menjadi lahan kelapa sawit dari PT Nabire Baru serta pengambilan kayu dari PT.Sariwana Unggul Mandiri.


PERKEBUNAN TANPA AMDAL

Selama satu tahun belakangan ini, tentang persoalan Masyarakat Pribumi Suku Besar Yerisiam, atas exploitasi, pembalakan liar dan proses pembiaran yang dilakukan oleh dua perusahan kelapa sawit PT. Nabire Baru bersama PT. Sariwana Unggul Mandiri di atas lahan Adat Masyarakat Pribumi Suku Besar Yerisiam sudah sangat memprihatinkan, kayu, rotan dan mahluk hidup yang ada di atas areal tersebut digusur dan mati tanpa ada pertanggungjawaban. Padahal aktivitas perkebunan tersebut sarat dengan persoalan, mulai sengketa pemilik ulayat antara pihak pro dan kontra  perkebunan kelapa sawit, klaim HPH yang belum usai, dan persoalan ijin Amdal dari BABEDALDA Privinsi Papua. Namun kegiatan aktivitas perusahaan terus dilakukan. Penebangan sudah masuk hingga areal-arel keramat, dusun-dusun sagu dan pinggiran pantai. Ribuan pohon kayu putih dan rotan yang memiliki nilai komersial diterlantakan dan dikuburkan begitu saja. Sedangkan kayu merbau/kayu besi terus menjadi buruan dan incaran kedua perusahan tersebut.

Amdal sebagai payung/pagar untuk menentukan kelayakan aktivitas sebuah areal kerja investasi. Tidak diterbitkan, dengan alasan kedua perusahan telah melakukan aktivitas pembukaan lahan sebelum adanya sosialisasi dan investigasi amdal di areal oleh bapedalda, sehingga kami tegaskan bahwa PT.Nabire Baru telah melakukan Usaha Perkebunan sebelum adanya Sidang AMDAL dan dokumen AMDAL.


DAMPAK KEPADA MASYARAKAT

"Sampai saat ini, kami tidak bisa memanfaatkan hutan kami karena PT JDI larang kami. Dia bilang, itu dia punya sudah ada izin. Jadi, kami tidak bisa memanfaatkan. Padahal, ini adalah hutan kami. Kami sejak lama hidup dari hutan ini. Jadi, Pak Gubernur Papua, kami minta cabut izin HPH PT JDI," pintanya. Keluhan pemanfaatan hutan adat ini pernah juga disampaikan Kepala Kampung Yaro,Yohana Mekey. "Hutan ini tempat kami hidup mencari makan. Kami juga bisa memanfaatkan kayu yang ada di hutan kami untuk bangun rumah. Tapi, Hutan kami telah dibabat habis oleh PT JDI. Sekarang juga masih tidak boleh. Kenapa kami tidak boleh ambil dari hutan kami," tutur Yohana (Sumber, Majalah Selangkah)

“Ribuan pohon kayu yang memiliki nilai komersial diatas 32. 000 hektar tanah adat masyarakat pribumi Suku Yerisiam, telah ditebang oleh perkebunan kelapa sawit ini. PT. Nabire Baru dan PT. Sariwana Unggul Mandiri, sedang mencari rejeki di nabire, hal itu bisa dilakukan juga dengan memanfaatkan masyarakat pemilik hak ulayat dengan membuat dukungan terhadap perusahaan kelapa sawit, melalui adanya tandatangan di sebuah kain, dengan dasar itu Ibu Titi Worabai Marey, Ketua DPRD Nabire, melakukan upaya mengajukan permohonan addendum kepada Mentri Kehutanan RI terhadap lokasi seluas 44.000 hektar (sepajang teluk cendrawasih) yang dimiliki oleh HPH PT.JDI oleh Ketua DPRD Nabire yang akhirnya disadari dilakukan untuk kepentingan perusahaan kelapa sawit, bukan untuk kepentingan rakyat, diduga Ibu Ketua DPRD dan Suaminya mempunyai kepentingan dalam bisnis Kelapa Sawit ini, padahal mereka bukan pemilik hak ulayat di daerah kelapa sawit ini.

PENUTUP

Kesimpulan

  •  PT.Nabire Baru dan PT.Sariwana Unggul Mandiri tidak menghargai adanya kepemilikan tanah adat di Papua sehingga ini merupakan sebuah pelecehan terhadap hak adat masyarakat adat papya sesuai dengan adanya UU OTSUS di Papua;
     
       Adanya konspirasi kepentingan antara Manajemen PT. Nabire Baru dan PT.Sariwana Unggul Mandiri dengan pejabat public di Kabupaten Nabire untuk melakukan penyiapan lahan tanpa adanya pembicaraan dengan pemilik hak ulayat;

Rekomendasi
  1. 1)    PT.Nabire Baru dan PT.Sariwana Unggul Mandiri segera membuka perundingan dengan pemilik hak ulayat dalam hal ini Suku Yerisiam dan Suku Mee, untuk membicarakan kompensasi kayu yang telah diambil selama ini;
    2)   Gubernur Papua dan Bupati Nabire agar meminta kepada BAPESDLH Papua dan BLH Nabire agar tidak menandatangani Dokumen AMDAL dari kedua perusahaan ini;
    3)     Gubernur Papua dan Bupati Nabire agar segera memfasilitasi adanya pertemuan antara perusahaan dengan masyarakat agar dapat dibicarakan tentang kompensasi yang dapat di tuangkan dalam MoU;




    PENULIS:
    SEKRETARIS I DEWAN ADAT PAPUA