Rabu, 15 Januari 2014

PENDATANG DI PAPUA, IBARAT TUMBUHAN BENALU

“Katika melihat eksitensi Orang  Asli Papua (OAP) terancam namun saya terinspirasi untuk menulis Artikel ini. Sebeb, menurut saya ini sebuah faktar yang sedang terjadi di Tanah Papua”


Oleh: Jackson Ikomou*)

Benalu adalah sekelompok tumbuhan parasit obligat yang hidup dan tumbuh pada batang (dahan) pohon tumbuhan lain. Benalu dapat dijumpai dengan mudah pada pohon-pohon besar di daerah tropis. Biji tumbuhan ini pada buahnya menghasilkan getah seperti lem berbentuk jeli yang lengket.

Penyebaran tumbuhan ini terjadi dibantu oleh burung, apabila burung memakan buah dan bijinya lalu mengekskresikan pada dahan pohon, bijinya yang lengket akan menempel pada dahan pohon selanjutnya akan berkecambah dan benalu muda mulai tumbuh.

Benalu sering dikaitkan dengan orang yang senang menumpang diatas Tanah leluhur orang lain. Hal ini mirip dengan ungkapan parasite atau hive di dalam bahasa Inggris. Bahkan kondisi di Tanah Papua Barat.

Namun ilustrasi Pohon benalu saya kaitkan dengan kontes Papua Barat saat ini. Pendatang di Tanah Papua adalah ibarat Pohon benalu. Sebab kedatang mereka telah menghancurkan eksitensi orang Papua.

Pohon yang tumbuh dari tanah ibaratnya orang asli Papua.  Hal ini terungkap dalam diskusi telah digelar oleh Mahasiswa Papua yang sedang mengayam pendidikan di Kota Bogor dan Bandung. Pada  tahun lalu di asrama Paniai Bogor.

Orang Papua yang sebelumnya budaya bercocok Tanam, menjalah Ikan, berternak namun itu mulai terkikis akibat kedatangan transmigrasi di Papua. Tanah-tanah adat di Tanah Papau diduduki kaum pendatang. Tempat yang dulunya rakyat Papua berkebun diambil alih oleh pendatang.

Kemudian. tempat yang dulunya orang Papua mencari kayu dibabat habis oleh perusahan kayu. Selain itu, pohon-pohon sagu dibabat habis oleh perusahan-perusahan asing. Upaya untuk merubah padigma orang Papua berkebun di rubah dengan beras melalu program Pemerintah selain itu toto gelap dibebasakan. Ini merujuk pada terancamnya kehidupan rakyat papua yang sebelumnya.

Contoh kasus; di Danau Paniai dulunya ada empat belas macam udang tetapi sekarang tinggal dua macam, akibat kaum pendatang membangun rumah dipinggiran Danau Paniai dan bahkan orang pendatang membuang sampa sembarang, sehinggah bermunculan tumbuhan aceng gandong maka habitat di Danau Paniai mulai hilang.

Kemudian, Banyak lahan yang dulunya orang berkebun hanya tinggal cerita. Pengaruh paradigm berpikir dirubah dengan kebijakan pemerintah terstuktural melalu beras JPS.Namun semua lini dikuasi kaum pendatang di Tanah Papua, karena semua bidang dimatikan melalu cara kaum colonial. Sehinggal orang Papua menjadi tumbal diatas Tanah asalnya sendiri. 

Jika melihat kondisi Papua, “ini Nyata” sebab semua sector dikuasi oleh kaum pendatang, sehinggah orang Papua jadi minoritas di tananya sendiri. Semua sector yang dimasudkan adalah Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Birokrasi dan bahkan tanah adat dirampas oleh Negara Kolonial Indonesia.

Persoalan ini, Indonesia telah  menunjukan moncongnya kepada orang Papua bawah, “saya tidak suka Orang Papua, tetapi saya suka Sumber Daya Alam (SDA) Papua” sebab pada malam tadi Prabowo sumbianto telah menunjukan taringnya untuk menguras kekayaan Papua,” melalui Twiiter pribadinya. Seperti yang dilansir kaumindependen.

Jika dalam pesta Demokrasi pada bulan depan Prabowo Subianto dinyatakan sebagai Presiden Indonesia. Pasti akan mengekploitasi sumber daya alam kepada para kapitalis asing tanpa mementingkan kesejahteran Rakyat pribumi. Kemudian,  akan mengadakan riset dimana tempat sumber daya alam yang masih dinilai berpotensi. 

Dalam kondisi itu, Operasi Militer terus menerus diguncangkan, seperti kondisi sekarang dimasa kepemimpinan Susilo Bambang Yodhoyona (SBY) sebagai Presiden Kolonial Indonesia. Namun, perlu mempertimbankan siapa figure yang layak untuk merubah nasib Rakyat Papua di masa mendatang nanti.

Pendatangan sedang bertumbu dengan segar, sedangkan Rakyat Papua menjerit penderitaan. Jika persoalan ini terus bertumbuh, “akan kemana kah? Nasib anak cucu kita kedepan ? mari tanyakan diri kita masing-masing sebagai anak bangsa Papua Barat.

Perlu ketauhi bersama, kaum penjajah datang untuk menjajah. Sebab Kolonial Indonesia klaim Papua masih bermasala. Namun, mari kita merenung sejanak tentang status tanah air kita pada saat ini.


Tanah Papua Dalam Rebutan Asing

             Dalam persoalan Papua, pihak asing pun tak berdiam diri, namun kaum Kapitalisme telah menunjukan taringnya kepada Indonesia untuk menanam investasi. Hal ini telah terbukti, Tanah Papua sudah di Ekploitasi habis oleh Kapitalisme dan Impirialisme. Dalam kondisi tersebut Indonesia telah memainkan komunikasi Politik untuk meredamkan diplomasi yang sedang di bangun oleh para diplomat Papua Barat yang ada  di luar negeri bahkan di dalam negeri.

SBY sudah memberikan sumber Daya Alam Papua seenaknya kepada pihak asing untuk mematikan perjuangan Rakyat Bangsa Papua. bahkan banyak persoalan di Tanah Papua tak bisa dijelaskan kata perkata.

Disaat Rakyat menolak mengekploitasi Sumber Daya Alam di Papua, rakyat jadi korban akibat kekerasan Militer Kolonial Indonesia. Militer Indonesia berperan untuk melindungi kepentingan kaum kapitalisme dan Imprialisme di Tanah Papua ini sudah terbukti.

Maka, Kekerasan Militer Indonesia di Tanah Papua telah membangkitkan semangat perlawanan Rakyat Papua. Namun disampaikan kepada Militer Kolonial Indonesia jangan menjadi kaki tangan kapitalisme dan impirialisme.

Sebab, Militer Indonesia sudah membunuh Jutaan Rakyat Bangsa Papua dari sejak awal Papua dikelaim sebagai bagian dari Indonesia melalu PEPERA yang telah dimanipulasi oleh Kolonial; Indonesia.

Di poin terakhir, inilah awal bertumbunya tumbuhan benalu parasit di tanah Papua, sedangkan pohon yang tumbuh dari Tanah mulai kering. Sungguh sangat nyata ilustrasi, “Tumbuhan Benalu”  dengan kondisi di Tanah Papua. Sebab, kedatangan colonial Indonesia dan Kapitalisme Asing telah membawah nasib buruk bagi Rakyat Bangsa Papua. kemudian eksitensi orang asli Papua pun terancam  punah.

Kembalikan Eksitensi OAP, Tanggung Jawab Generasi Bangsa Papua
Kitong semua su tahu dengan kondisi kitong punya Tanah yang penuh dengan susu dan madu. Mari kitong tanyakan pada diri kita masing-masing.  Apa yang selama ni sa lakuakn untuk tanah air ? Buanglah gensi dan Egois. Sebab, ini menjadi persoalan yang buruk dikalangan Rakyat Bangsa Papua. Namun perlu kita saling mendukung guna mengembalaikan eksitensi Rakyat Papua yang matikan oleh Kolonial Indonesia dan Impirialisme asing.







 

ENCENG GONDONG, MENGGESER HABITAT ASLI DANAU PANIYAI

Oleh: Jackson Ikomou*)
Eceng Gondong di Danau Paniai. (FOTO/Ils)

KATIKA fajar pagi itu pantulkan dari timur matahari naik, pancaran cahayanya menyinari Kota Enagotadi, Paniyai. Pantulan cahaya matahari yang keluar diantara gunung-gunung yang disebut Egeida itu memperindah kota tua ini. Kota Enagotadi, terletak di lembah paniyai persisnya pinggir danau Paniyai. Keindahan alam danau dan lembah serta gunung bukit mengapit pun dibuat makin indah dan ceria di hadapan pandang mataku. Pandang mata pun mendesak hatiku, lalu saya pernah mengikuti pantulan cahaya mentari pagi itu sambil berjalan kaki kearah pusat kota tua peninggalan Belanda yang pernah diserang Japan usai perang dunia kedua. Membuat diriku, terhibur dari biasnya yang kurang cerah dan dengan penuh keceriaan indah pagi itu membuat diriku pun terus mengayunkan langka kakiku untuk menghampiri pedangang yang sedang bergegas untuk menjual dagangan dalam warung kiosnya. 

Pedagang warung itu bernama Mass Banio, asal dari Pulau Jawa. Pedagangan kios sebagai pekerjaan sehari-harinya, ia menjaga warung kiosnya. Disamping warung kiosnya itu ada kolam ikan dari danau Paniyai. Ikan danau, tidak lain dari ikan emas, ikan mujair, ikan lele juga udang karena dulunya danau paniyai itu ada hanya udang yang kian berkurang atau musnah karena habitatnya dikuasai ikan program perikanan yang dimasukan tahun 1970-an. 

Ketika, saya sampai di warung kios, untuk membeli kelereng di kios yang  terletak di jalan menuju bandara udara Enagotadi. Kolam ikan, yang ada di samping itu, berukuran 7 X 7 persegi. Ada dalam pagar karena sudah dipagari dengan bambu “Idaa Mee”. Menjadi pertanyaan, kolam ikan yang lalu tampak bagus karena tidak ditumbuhi tumbuhan. Akhirnya, saya melihat ada tumbuhan yang menurut saya unik karena tumbuh dengan tumbuhan yang tidak pernah saya melihat selama ini. Rumput yang unik dan tumbuh menjalar diatas air kolam yang polos dipenuhinya. Membuat saya penasaran, Mass Banio ini tanam tumbuhan apa karena sudah menyebar dan memenuhi badan kolam yang sebelumnya, tidak pernah melihat, pikirku. 

Pada saat membeli kelereng di kios, saya mulai bertanya ke Mass Banio. Seraya bertanya, daeng tanam apa di kolam ikan itu? Karena ia lama menjawab, bertanya lagi, “Bapak, tanam tumbuhan apa, karena sekarang kolam ikan ditutupi dan makin bagus, daeng? “Ahhh. Itu tumbuhan Eceng Gondok. Jawabnya. Mass, tumbuhan ini sangat bagus skali kelihatannya tidak ada kolam ikan“ tegasku, sambil membeli kelereng seharga Rp.10.000. 

Mass, “tumbuhan Enceng Gondok itu, diambil dan bawah dari mana eeee? Mass Bania, kenapa tanya? Waa, tumbuhan itu unik sekali bapak, karena disini tidak ada, tegasku. Mass Bania,…waaa tumbuhan itu saya bawa dari nabire dan letakkan di ujung kolam itu cukup satu saja, sambil memperhatikan tumbuhan yang memenuhi badan dalam kolom itu. Jawab Mass Banio sambil tatapnya“, ketika itu saya bawah datang dari Nabire, tegasnya.

Kelereng yang beli di warung kios Mass, “saya main dengan teman-teman di sekolah. Cara mainnya, taruhan kelereng, pass waktu itu saya kalah terus. Karena teman main kereng itu pandai main, akhirnya dalam nokenku sudah habis, tidak ada kelereng.

Ketika saya, melihat dalam noken kecilku itu, semua kelereng habis dan saya minta bagi kesaya, namun teman tidak mau membagi. Kalau, mau minta-minta lagi kenapa main habiskan tadi, rasa sendiri, tegas teman. Saya, mulai menangis, lalu mengejar teman-teman saya dengan batu, karena tidak berbagi ke saya. 

Suara nanggirku : Hiiiii, aniya kelereng kou yokaweii yee hiiiii  ani kelereng kou yokaweii yee hiiiii ani kelereng kou yokaweii yee hihiiiiii….hehehehehe

Teman-teman bermain itu, mereka sampaikan kalau takut kalah jangan bermain semua, rasakan sekarang. Saya kejar pegang batu dan melampiaskan emosi, karena mereka mencari gara dan saya melempari rumah mereka, tempat mereka masuk, di pipih mataku, masih ada tanda nangis, tadi sambil lempar rumah.

Selisih, beberapa hari kemudian, saya datang beli kelelereng di tempat daeng. Sambil, melihat kolam ikan, yang dipenuhi “tumbuhan Enceng Gondonk karena mulai menyebar dalam kolam. Ketika saya beranjak, usia Sekolah dasar (SD) itu, pernah saya memperhatikan, ternyata di Danau Paniyai, pun, Mass Banio buang tumbuhan Enceng Gondok yang saya pernah lihat di kolam ikan miliknya, ketika masih belum sekolah. Penasaran saya, belum usai dan ketika beranjak di usia SD, itu pernah mendengar komnetar seorang mahasiswa ISSP Zakheus Pakage dan mulai mengenal ketika sosialisasikan lewat gereja-gereja di Paniyai,. Kita harus protes kepada pemerintah, karena Danai Paniyai mulai banyak dengan tumbuhan enceng gondok. Dalam pikiran, saya teringat cerita dari pedagang kios, karena ia pernah ceritah bahwa membawah Enceng Gondok dari Nabire. Ternyata, hanya untuk “Mematikan Habitat di Danau Paniyai”. tegasku. 

Hati saya mulai, mendesak untuk bersaksi sesuai pengalaman, akhirnya ramai dibicarakan.
Pada suatu sore, “bapak saya mulai berdiskusi dengan beberapa mahasiswa dari Kampus ISSP Zakheus Pakage mengenai bahaya Eceng Gondong di Rumah sambil minum kopi. Ketika itu, orang tua tinggal di Konplek Misionaris Sending. Rumah yang orang tua tinggal berukuran 5 X 7, dengan 3 kamar tidur, tamu dan dapur serta kamar mandi.

Seusai mendengar cerita, yang hendak bapak saya cerita tadi itu. Ada, seorang mahasiswa mengatakan? Kalau kita perhatikan habitat danau paniyai, burung-burung bangau yang dulu banyak di danau saja sudah mulai hilang, pengganti udang, ikan-ikan mass pun mulai hilang,sekalipun program pemerintah lewat perikanan memasukan itu. Dulunya, kita kenal bahwa di danau paniyai itu banyak udang-udang namun hanya tinggal dua macam akibat Eceng Gondok di Danau Paniyai. “waahhh, keadaan ini dibuat makin parah skali, tegasnya.

Saya, mengatkan,” Ahhh…asal muasal tumbuhan enceng gondok itu. Dulu pada saat beli kelelereng saya pernah lihat di kolam milik Daeng Banio itu banyak dan bertanya? Ternyata, Daeng Bania, yang sebenarnya tentara tetapi berdangan itu, dia bawa masuk ke Paniyai. ketika itu, saya bertanya dibawa dari mana? Dia jawab saya bawa dari Nabire. Sekarang, banyak yang mulai bertanya, enceng gondok itu muncul dari mana? Ternyata, yang membawa masuk tumbuhan itu adalah Daeng Bania, ia membawa dari Nabire dan tanam di kolam dan buang ke Danau Paniyai, tegas kesaksian ketika itu.
Itu sudah,” Jawab mahasiswa yang kuliah di kampus ISSP….

Untuk itu  nanti kita perlu mengadakan riset, kemudian Mahasiswa Zakheus Pakage mengadakan risel:

Hasil risel dari Mahasiswa ISSP Zakheus Pakege telah rekomendari ke Pemerintah untuk di bersihkan. Kemudian pihak pemerintah alokasikan dana untuk pembesihan. Pembersihan di lakukan oleh Masyarakat yang berdomisli di Kampung Aikai

Walaupun dibersihkan malah  menambah. Ini Upaya pemusnaan yang dilakukan secara structural
Pak Banio adalah yang aktivitasnya pedagang tapi nyatanya ia anggota Militer yang ditugaskan di Paniyai. Banio Asal Jawa. Sekarang, beliau, sudah pensiun dari Anggota Militer. Ia huni di sebuah Rumah di Komplex Militer 

Banio sudah lama Tugas di Paniai, dari sejak  Enogotadi masih Ibukota Kecamatan/Distrik. Entah, ditugaskan dalam misi apa? Dan tahun berapa, tidak ketahui, rasaku.

Penyebaran Eceng Gondong berawal dari kolam ikan Mas Banio sehingga Danau Panitai pun menyebar luas. Maka  banyak habitat yang mati akibat ditumbuhinya tumbuhan mematihak habitat danau yang cantik itu. Kadang mama Paniyai Papua menjalah Ikan, ada keluhan tentang kesehatan mereka bahwa mulai terganggu ketika banyak enceng gondok dan sulit mendapatkan ikan, tidak seperti sebelum adanya Enceng Gondong.

Mendengar cerita fakta, Salah satu Mama yang sering menjalah ikan, pernah bercerita tentang mengatakan , “ Ka…ka..kou Aceng Gondok kou yaaa, kaguu badoo nako-naaa udomudo, eyatee nooo, ikane naa ayabeu noo itoko” (artinya, aduuu dengan adanya eceng gondok itu buat susa dapat ikan tetapi membuat lutut sakit, dan makin berat, dan sekarang tidak bisa mendapatkan ikan lagi), tegas kenang mama nelayan danau paniyai.

Sudah beberapa kali perahu tidak bisa masuk sampai ke rumah, karena jalan keluar masuk perahu danau dikuasai tumbuhan enceng gondong dan tidak tertolong. Sulit, keluar masuk dan tidak bisa sampai masuk ke tempat perahu kami seperti dulu, kesaksian saat ini.

Bahkan  ada  juga yang perahu mereka  hilang, akibat terhimpit atau tertimbun dalam tumbuhan Eceng Gondong.

Sebuah pengalaman yang pernah rasakan diatas ini, saya menarik satu pikiran bahwa upaya pemusnaan orang Papua khusus di 7 (tujuh) wilayah adat, masyarakat adat tanah Papua terutama di Mee-Pagoo mesti kita waspadai karena kolonial Indonesia masuk dengan berbagai cara untuk menghancurkan pijakan hidup kita di meuwo dide. 

Hal yang menjadi ironis lainnya, mereka membangun banyak bangunan yang hendak bangun di bibir danau Paniyai tanpa ada kontrol dari pemerintah dan sekalipun ada dari masyarakat adat atau tokoh agama, mereka berlindung dibawah pemerintah setempat. Semoga ini menjaid perhatian, pemerintahan sekarang.

Untuk mengembalikan keindagan alam danau, pemerintah kabuapten Paniyai perlu punya perencanaan yang tepat tanpa membiarkan untuk tambah merusak alam danau paniyai ini, Bila perlu, pemerintah paniyai segera menggusur semua rumah yang dibangun diatas danau di sepangang pinggiran Danau Paniyai ini. Jika tidak diantisipasi oleh dari pemerintah sekarang, kedepan, keindahan danau Paniyai akan tinggal nama karena sudah mulau menghancurkan eksitensi habitat di danau Paniyai dan mata pencaharian masyarakat disekitar danau tersebut di Kabuapten Paniyai.

Ada pengalaman bahwa, beberapa kali pemerintah kabupaten Paniyai pernah membersihkan namun malam tamba banyak karena sumber produksi belum dibereskan yaitu dibawah bangunan yang dirikan dipinggir danau atau bahkan rumah-rumah berdiri diatas sampai masuk danau yang dikenal mendunia Wissel itu. Jika hal ini dibiarkan. Gambaran ini, menjadi keberpihakan semua pihak, untuk katakana kalau bukan sekarang kapan akan bersihkan dan akan kemanakan nasib anak cucu kedepan, bisa juga nama danau tinggal kenangan karena ditutupi enceng gonong dan dipenuhi sampah-sampah buangan pedangang atau rumah yang berdiri gagah diatas danau wissel tadi. Apakah, patas katakana sudah terlanjur, lalu kalau bukan pemerintah (kita), siapa lagi. Sebab, kaum penjajah datang untuk menjajah rakyat Papua. Mulai menghancurkan dari basis penyangga kehidupan. Tempat dimana menjadi mata pencaharian warga setempat, hal ini sangat dirasakan seluruh tanah Papua terutama cerita diatas ini, tegas simaknya.

Hal terpenting lainnya, kaum generasi muda di suku bangsa mesti pikirkan benar tanpa pinggirkan persoalan bersama masyarakat kita. sebab ini tanggung jawab generasi Papua, demi masa depan bangsa Papua. Untuk itu mencari solusi demi menuntaskan Eceng Gondong di Danau Paniai. Dimulai dari pembersihan semua rumah yang berdiri diatas danau karena disana sumber produksi enceng gondong, simaknya agar jelas dalam mengatur tata kota dan wilayah pemerintahan Paniyai kedepan, usulannya.

Demikian:Catatan Singkat ini saya buat atas kesaksian fakta karena tumbuhan pun menyebarkan untuk menggeser tumbuhan asli denga Eceng Gondok di Danau Paniai. Mari Menjaga keindahan danau Paniyai (Lake Wissel), tanpa membiarkan jadi bencana bagi diri tapi penyelamat diri sekarang dan masa mendatang. Salam lestari.

Selasa, 14 Januari 2014

Kisah Si Penginjil Tua


KETIKA itu saya memasuki pintu gapura disebuah gubuk.  Gubuk tersebut  berukuran 5 x 5 Persegi. Halaman bagian depan gubuk, seluas 20 X 17 persegi. Diluar gubuk itu dilihat hiasi dengan berbagai macam  tumbu-tumbuhan, diantanya bungah Anggerek, bungah mawar, Pohan Kasuari, dan bahkan banyak tumbuhan dan tanaman  lainnya didepan halaman Pondok itu.

Kebetulan memandang ke dalam gubuk itu, ada seorang Tua berjenkot putih  sedang duduk disebuah kursi Rotan sedang dengar-dengan lagu Rohani sambil minum Teh  hangat di Pagi hari .

namun saya berniat untuk  masuk ke dalam gubuk itu, ketika  masuk, saya mengatakan, “ Baa, Koya Abata (Mee). Bapak Selamat Pagi,” Ucapku sambil  Kipoo Motii (salaman Orang Papua). ternyata sendirian dalam Gubuk itu.

Paitua Kumis putih itu menjawab, “ Shaloomm,  anakKu…….. Jecksonnnnn …..selamat datang di Gubuk , “  kata Paitua berjengkot putih itu dengan penuh antusias. 

Saat melihat kondisi dalam gubuk itu, dihiasi dengan berbagai macam perhiasan bahkan juga ada satu unit computer dibagian sudut, dan Musik Band satu set di samping kanan. Saya merasa heran, Gubuk itu kecil tetapi perabot dalam gubuk memikat perhatian.

Seusai itu. Paitua persilakan duduk disebuha kursi. Maka, sayapun duduk di kursi yang telah disediakan didalam Gubuk itu. 

si Tua itu memanggil anaknya.  “Linda…Linda.. linda” kata paitua itu sekitar tiga kali.

 “Ya,Bapa, Jawab anaknya 

 “Ko buatkan teh untuk ko punya kaka Jeckson, “ Kata si Tua itu kepada anaknya.
Selagi anaknya mempersiapkan teh buat saya. Bapak itu bertanya, “ selama ini ko tinggal dimana saja ?

 “ z di Rumah Auri saja, tra ke mana-mana, “ Jawab saya.

Saat kami dua sedang intraksi, anak Si Tua bernama Linda itu ke dapur buatkan teh hangat. sepuluh detik kemudian Anak bungsu, si Paitua itu membawah datang segelas teh hangat untuk saya.
Sambil minum teh di pagi itu, Si Tua itu mengatakan, “  Anak, besok za rencana mau pelayanan  di Kampung Muri.

 “Anak, ko mau ikut Bapa ke Kampung Muri ka ? Tanya Paitu itu, sambil minum teh hangat.
Saat mendengar Kampung Muri, saya merasa nama kampung tersebut baru didengar
Karena penasarann, saya balik bertanya, “ Bapa Kampung Muri itu dibagian  mana ?

Jawab Paitua,”Kampung Muri terletak di dekat telaga Yamor, antara Kabupaten Nabire dan Kabupaten Kaimana. 

Tanya saya,”  Kampung Muri Wilayah Administrasinya  masuk dalam kabupaten Nabire atau Kabupaten Kaimana ? 

Jawab Bapak, “ Anak, Wilayah Administrasinya, de masuk dalam Kabupaten Kaimana, Propinsi Papua Barat. Akan  tetapi kondisi masyarakat disana, belum ada perhatian dari Pemerintah, dalam hal  pelayanan Pendidikan dan Kesehatan bahkan disektor lainnya. Kata Si Paitua, sambil menggelengkan kepalanya. 

 “Sebab pada tahun lalu saya sempat pelayanan disana, ada salah satu perusahan kayu yang sedang operasi di kampung Muri tetapi tidak diperhati nasib rakyat setempat, seenaknya menguras kekayaan mereka “ Katanya.

 “ Maka, Bapa sengaja ajak Jackson to, supaya dari sekarang mulai pelayanan kepada Umat Tuhan serta membantu Bapa untuk memikul barang, “ Kata si Tua itu.

Ketika saat keasikan diskusi, kebetulan handphone  saya ada panggilan masuk dari Nahum Madai. saya angkat panggilan masuk itu.

Hallo selamat Pagii Nogeiii (Teman),” Kata saya

Nogeii ko dimana ? sekarang ni za mau ke Lagari niii…

“Nogeii,  di Batalion nii dengan Pak Jack, 

Tanya Nahun. “ko mau ikut za ke Lagari ka?

Nogeii, “ Mau ikut ni, jadi  datang jemput za sudah   di rumah Batalion

Oke baik Nogeii, ko tunggu za mau datang jemput ni. 

Paitua itu bertanya, tadi itu siapa yang telpon ?

“Itu z pu teman Nahum

Beberapa Menit kemudian Nahum tiba, Nahum SMS saya dari depan Gubuk itu

Ketika teman saya tiba.  secara terburu-buru saya minta pamit. Sambil salaman .

“Ba, Koyaaooo abata ani kii Lagari Uwinekaa, Nogeii Nahum Mananategi kaa.  (Bapak, selama Pagi, saya mau ke Lagari jadi , soalnya  za pu teman  Nahum ada panggil  niii).

Maka saya bersama teman Nahum Madai menuju ke Lagari menggunakan sebuah Motor RX King.  Saat hendak menuju ke Lagari di ditelpon si Penginjil Tua di tengah perjalanan.

“Anak, kamu siap. Besok pagi kamu ikut ke daerah Selatan Papua. Anak nanti bantu pikul genset ya,” kata Si Penginjil Tua.

Saya merasa kesal, sebab saya belum ada persiapan untuk pergi ke daerah yang dimaksud.
“Adoo, Bapa saya sibuk jadi tra bisa,” tutur saya dengan rasa kesal.

“Harus ikut anak,“ kata Si Penginjil Tua dengan nada keras dan akhirnya saya bersedia untuk mengikuti si Penginjil Tua .

Saat membagikan Pakean ke Umat
di Kampung Muri (FOTO/Ils)
Keesok harinya,  mulai perjalanan menuju ke sebuah kampung terpencil yang terletak diantara Kabuaten Nabire dan Kabupaten Kaimana untuk mengabarkan injil dan memberikan pelayanan kepada umat Tuhan. Waktu yang ditempu ke kampung tersebut selama dua hari. Perjalanan sungguh sangat melelahkan namun kami tetap melajutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Saya memikul sebuah diesel di bahu.

Ketika tiba di Kampung Urubika, hujun mengguyur deras membasahi semua barang bawaan. Walau demikian,  tetap melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan kami.

“Anak ini hujan deras jadi kami istrahat di rumah podok itu,” tutur Si Penginjil Tua yang juga Alumni STT GBI Mawar Saron sambil memikul sebuah tas lanser.

Sesaat setelah kami berteduh, pondok yang kami tumpangi  roboh.

“Wuuuuuu wuuuuu wuuuu,” saya berteriak sambil melompatkan  diri ke arah kanan pondok yang sedang roboh itu

Saat itu, saya tidak berpikir apa yang dialami Si Pengijin Tua itu. Ternyata, bagian jari tangan terluka .
Saya bertanya, “ Bapak Jari ada darah itu kenapa ?

“ Ahhhh itu Tadi ada terjepit di kayu, saat Pondok roboh,” Kata Si Tua.

 Namun, hal yang kami  Syukuri, semua barang bawaan dalam kondisi aman. 

Walau kesehatan Si Penginjil Tua kurang baik, tetap melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan .

Kami tiba di sebuah kampung yang terletak di bibir Telaga Yamor saat waktu telah menunjukan Pukul 05.00  sore.

Selanjutnya, kami numpang pada sebuah truk berwarna kuning milik Perusahan Kayu untuk melanjutkan perjalanan ke Kampung Muri dengan jarak tempuh sekitar 200 km. Dan akhirnya kami berdua tiba dengan keadaan selamat ke tempat tujuan kami.

Kami disambut antusias oleh masyarakat di Kampung Muri, sambil menyanyikan lagu “ selamat Datang-selamat Datang”

 Ketika si Penginjil Tua itu melihat kegembiraan masyarakat di kampung itu, Ia mencucurkan Air matanya, sambil salaman dengan warga di daerah terpncil itu.

Namun, beberapa detik kemudian Saya juga  mencucurkan air mata, ketika melihat kondisi tubuh mereka yang terinveksi penyakit kulit.

Rumah yang mereka huni, dibangun dari kulit kayu, atapnya dari daun pohon bobo. Berukuran 5 X 5
Seusai itu kami diantar ke rumahnya Pendeta yang sedang pelayanan di kampung tersebut.

Saya tanya ke Pendeta  itu, nama Bapak siapa ?
Markus Anou

Pelayanan disini sudah Berapa Tahun ?
20 Tahun

Namun saya bertanya lagi“ perusahan yang sedang operasi itu, nama perusahannya apa ya ?
Ia menjawab,” Itu nama Perusahan Sentrico ,”Jawabnya

Di Perusahan ini, ada masyarakat sini yang jadi Karyawan ka tida ? tanya saya.
“Trada, karena mereka disini, tra tau membaca dan menulis

Saya tanya, di kampung ni ada Sekolah ka trada ?
“Disini trada sekolah,  Jawabnya. 

Karena trada Sekolah saya yang biasa mengajar membaca dan menulis, “dari hari senin sampai dengan Sabtu, klau hari  Minggu pimpin Ibadah di Gereja” Jalasnya.

 Kata Pendeta Anou lagi, Puji Tuhan…..Sekarang sudah banyak Masyarakat yang  tahu membaca dan menulis, “ Ujarnya sambil masuk ke dalam rumahnya

Apakah, ada perhatian dari perusahan terhadap Masyarakat disini ka trada, “Tanya saya sambil memikul barang.

Yaaa ada, “kemarin lalu, pihak Perusahan ada berikan sebuah Disel  untuk penerangan di kampung ini. serta Transportasi sudah sediakan oleh pihak perusahan kepada Masyarakat sini. 

tanya lagi, “Bapa, Untuk Pendidikan Perusahan perhatikan kaa, tida ?
Tradaa, Kata Pendeta itu

Lanjutnya, “waktu lalu saya mendesak Perusahan untuk memberikan beasiswa  agar mereka bisa sekolah di Kota. Akan tetapi hinggah kini belum ada jawaban dari Perusahan Sentrico, “ Kata pendeta  Anou itu sambil mengankat barang yang kami bawah dari Nabire itu.

Kemudian saya merasa ngantuk, saya pun membaringkan diri di tempat tidur yang  sudah disedia oleh Pendeta Anou.

Ketika hari mulai pagi, Si Pendeta Anou itu telah menyediakan sarapan pagi.

Namun, sambil menikmati sarapan Pagi, saya bertanya,” Suku di Kampung Muri ini Suku apa ee ?
Suku yang mendiami Kampung Muri adalah Suku Meree, yang awalnya mereka ditemukan oleh Penginjil Papua, Pendeta Anow pada Tahun 1992. Saya sendiri,’ katanya sambil ketawa heheheheheheeheheheheheh

Beberapa waktu kemudian, si Penginjil Tua itu mengabarkan Injil dan membagikan pakaian kepada Umat Tuhan di Kampung Muri sebagai hadia Natal. 


Walau menghadapi hambatan demi hambatan, masalah demi masalah tetapi Si Penginjil Tua ini tetap bertekad melanjutkan visi dan misinya. Namun, sampai dengan saat ini masih terus melayani di pedelaman Papua. Si Penginjil Tua yang maksudkan adalah Pdt. Jack Yeskhel  Ikomou, S.Th. Usia (67 Tahun). Sekarang beliau sebagai Ketua Departemen PI & Doa Sinode Kingmi Papua. Banyak pengalaman yang beliau lalui semasa muda. Ia fokus untuk pelayanan secara religious dan/atau membangun iman kepercayaan kepada Tuhan di Pedalaman Papua.

Prabowo: Saya Bukan Cintah Manusia Papua, Tetapi SDA Papua

Prabowo Subianto, dipotret saat beliau memimpinOperasi Militer di Mapenduma, Papua. (FOTO/Ils)
Oleh: Jacskon Ikomou


SAAT gelap gulita menutupi jagat raya. saya mendatangi sebuah Rumah disekitar Kebayoran lama, Jakarta Selatan, ketika memesuki rumah tersebut ternya warnet, saya bisa tahu itu wanet, karena didepan rumah itu ditulis “Nia Net” namun saya berniat masuk untuk online


Awalnya saya sampaikan ,“Selamat Malam mass


“Malam juga..ya.. Mass,” Jawab Operator Warnet.


Mass ada yang kosong, Inga ? Tanya saya,           


Jawabnya, “Mass ada, di Nomor 07.” Kata operator, tangannya  sambil menunjukan ke arah ruangan 07.


Mass Operator itu bertanya, “ Mau paket atau Persoanal,


“Personal yaa  Mass.”Jawabku. sambil menuju ke ruangan 07.


Namun beberapa detik kemudian saya nyalakan  computer . Awalnya, saya buka akun FB saya, kemudian buka  twiiter juga .


Katika memasuki akut Twitter,” ada sekitar beberapa orang saling berintraksi melalu Twiter. tentang Papua. Karena, saya adalah Orang asli Papua , merasa penasaran dengan pembahasan mereka.


Sehinggah saya buka lebih dalam, ternyata beberapa orang ini saling berintraksi dengan salah Polisi dari Fraksi Partai Gerinra, yaitu Prabowo Subianto.


Ini Diskusi yang mereka bahas


Bung @alfa_violist, saya beri tahu satu rahasia: Kita masih bisa bangun minimal 10 tambang sebesar Freeport lagi di Papua. Kita begitu kaya,” Tulis

Ketika saya baca, Sangat merasa kesel sekali.

Waa…..wa…. Parah skali , klau Prabowo Jadi Presiden,

Sebab, Beliau adalah salah satu actor operasi Militer di Mapenduma Papua

@Prabowo08 @bambangkn Freepot tutup saja Pak, jika dihitung-hitung total emas kita
 yg sudah dikeruk bisa beli benua Amerika itu Pak.

Kedua mengenai Papua dan Indonesia Timur. Kebocoran terlalu besar, diperlukan kepemimpinan langsung oleh pemimpin tertinggi. @bambangkn

Pak @Prabowo08 boleh tau tentang rencana pemerataan pembangunan agar tidak
berfokus di jawa saja?

@Prabowo08 Luar biasa, okey Pak, kita gunakan sebesar-besarnya hanya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. No kompromi!


Seusai membaca semua Diskusi,  Saya hanya berpikir,” Ini sangat Parah skali, jika Prabowo jadi Presiden.

Pembumkaman bebas berekpresi, di Papua bahkan di Indonesia akan meningkat. Sebab potisi Gerinra bersifat Iblis. 

Namun, beberapa detik kemudian saya keluar dari Akut FB dan Akun TW saya. kemudian matikan Komputer yang saya gunakan. ternyata saya menghabiskan waktu sekita 1 Jam di depan layar komputer LG layar kecil. lalu menuju ke Operator untuk bayar.

Saya bertanya,” Berapa harganya,”

“Lima Ribu, “ Kata Operator sambil lihat daftar harga di sebuah computer yang terpampang depan si operator itu.

Namun, saya keluarkan uang dari  saku sebesar sepuluh ribu, lalu saya Bayar. 5 ruibu rupiah dikembalikan.

Mass makasih yaaa..” Tutur saya, sembil melangkah untuk pulang ke penginapan.

Ketika saya pulang ke penginapan, pass di jalan raya , trada kendaraan yang lewat, hanya seekor Tikus

hahahha saya tertawa skali, ketika melihat si tukis itu.

Namuan,  jarak yang ditempu sekitar 1 Meter. Kemudian saya tiba dengan keadaan selamat di tempat tinggalKu.